Lebaran CDN

Theresia Setia Dampingi Suami Lakukan Konservasi Penyu di Solor

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Tidak setiap istri bersedia membantu suaminya dalam melakoni pekerjaan yang tidak menghasilkan uang, apalagi sebuah pekerjaan yang hanya melakukan konservasi penyu.

“Sejak kami pindah dari Boru, Kecamatan Wulanggitang dan menetap di Pantai Sulengwaseng, saya selalu ikut bersama suami setiap hari mencari telur penyu,” kata Theresia Werang, warga Desa Sulengwaseng, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, NTT, saat ditemui di desanya, Rabu (21/4/2021).

Theresia mengaku, sejak tahun 2018 keluarganya memutuskan untuk menetap di Solor Selatan, dirinya pun tidak mengeluh dan tetap setia mendampingi suami bekerja sebagai petani.

Lahan kebun seluas sekitar 3 hektare di tepi pantai Desa Sulengwaseng pun menjadi sandaran hidup keluarga dengan 6 orang anak ini, di mana anak kelima dan keenam ikut tinggal bersama mereka.

“Sejak suami memutuskan untuk melakukan penetasan telur penyu, saya mendukung langkah yang dilakukannya. Setiap malam musim penyu bertelur atau pagi hari saya selalu mengikuti suami mencari telur penyu,” ungkapnya.

Perempuan kelahiran Boru, 18 Mei 1969 ini mengatakan, kegiatan mencari telur penyu di sarangnya dilakukan di sepanjang pesisir pantai Desa Sulengwaseng hingga ke desa tetangganya dengan menempuh jarak sampai 3 kilometer.

Terkadang kata dia, sang suami dan dirinya harus bergantian membawa ember berisi pasir dan telur penyu yang barusan diambil agar bisa segera dibenamkan di penangkaran penyu di pasir depan rumahnya.

“Saya berdua saja bersama suami membawa ember untuk mencari telur penyu. Selama musim penyu bertelur minimal kami menemukan 12 sarang dan harus kami bawa ke lokasi penetasan,” ucapnya.

Theresia katakan, kegiatan mencari telur penyu dilakukan di sela-sela kegiatan bertani di kebun yang berada di samping rumah mereka di tanah milik suaminya yang ditanami padi ladang dan jagung.

Ia mengakui bila telur penyu sudah menetas dan menjadi tukik, setiap 3 jam sekali dirinya bergantian bersama sang suami harus mengganti air laut di wadah berupa ember plastik tempat tukik diletakkan.

“Kalau tukik sudah menetas, setiap 3 jam sekali kami harus mengganti air laut di ember. Kadang kami tidak tidur semalaman. Apabila tukik belum dilepas ke laut dan masih menunggu staf Yayasan Misool Baseftin dari Kota Larantuka dan Camat Solor Selatan tiba di rumahnya,” tuturnya.

Sang suami, Wilhelmus Wokadewa Melur mengakui, peran sang istri sangat membantunya karena sangat mendukung langkah konservasi penyu yang dilaksanakan olehnya, bersama Pokmaswas Jalur Gaza.

Mus bahkan memberitahukan kepada Dinas Perikanan Kabupaten Flores Timur dan Yayasan Misool Baseftin agar apabila ada penghargaan dari pemerintah, maka istrinya juga ikut diberikan penghargaan.

“Istri saya sangat mendukung kegiatan yang kami lakukan meskipun tidak mendatangkan uang. Bahkan dia rela harus berjalan kaki beberapa kilometer menemani saya mencari telur penyu,” ujarnya.

Mus mengaku beruntung memiliki istri yang mendukung usahanya dan tidak pernah mengeluh termasuk membersihkan areal pantai di lokasi penangkaran yang dicita-citakannya akan menjadi semacam tempat wisata.

“Kami berdua bersama anggota Pokmaswas bermimpi suatu saat tempat kami bisa dijadikan tempat wisata dan edukasi bagi siapa pun yang ingin mengetahui tentang penetasan telur penyu,” pungkasnya.

Kesetian Mus dan Theresia memang patut diapresiasi. Meski tinggal di rumah sederhana berdinding papan dan beratap seng, semangat melakukan konservasi penyu tetap dijalani keduanya, bersama anggota kelompok Pokmaswas Jalur Gaza yang dibentuk keduanya.

Lihat juga...