Lebaran CDN

Tingkatkan PDB Nasional, UMKM Didorong Lakukan Ekspor

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Di tengah pandemi Covid-19, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) didorong untuk terus melakukan ekspor produknya dalam upaya meningkatkan Produk Domestik Bruto (DPB) bagi perekonomian nasional.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahudin Uno mendorong pelaku UMKM untuk bisa melakukan ekspor produknya. Apalagi pemerintah menurutnya, telah memberikan intensif dan subsidi bagi pelaku UMKM untuk bangkit dan berkembang di tengah badai Covid-19.

“Secara global sektor pariwisata yang paling terdampak Covid-19. Kondisi ini otomatis berdampak  pada UMKM kehilangan pangsa pasar karena sepinya wisatawan,” ujar Sandi, pada webinar bertanjuk Pembiayaan dan Adaptasi UMKM di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Selasa (20/4/2021).

Dia menyebut, data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2021  mencatat sepanjang 2020 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 4 juta kunjungan atau turun 75 persen dibandingkan tahu  2019.

Bahkan tren penurunan jumlah wisatawan pada Januari 2021 anjlok 89,05 persen dibandingkan pada Januari 2020. Begitu juga data Bank Indonesia (BI) mencatat sebanyak 87, 05 persen UMKM terdampak Covid-19.

“Nah, dari  jumlah itu sekitar -93,2 persen terdampak negatif di sisi penjualan. Maka, perlu strategi pemerintah sebagai upaya mitigasi industri pariwisata  nasional melalui ekonomi kreatif sekaligus memperdayakan UMKM,” tukasnya.

Apalagi menurutnya, UMKM adalah kunci dari pemulihan ekonomi bangsa ini dalam kondisi pandemi saat ini. Bahkan organisasi pariwisata dunia memprediksi sektor pariwisata dunia termasuk Indonesia berpeluang untuk rebond di paruh kedua 2021.

“Bagaimana sektor pariwisata dan UMKM memanfaatkan peluang tersebut untuk rebond. Tentu, kami dorong UMKM lakukan ekspor,” ujarnya.

Menurutnya, ada sejumlah pelaku UMKM yang bergerak di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif yang mendapatkan  bantuan insentif dari pemerintah.

Di antaranya adalah subsektor aplikasi digital, fesyen, kriya, flim, pariwisata dan pengembangan permainan.

Sehingga menurutnya, kalau pelaku UMKM masuk ke dalam subsektor tersebut, dan  mendapatkan bantuan dan insentif dari pemerintah. Maka bisa didorong dengan program pengembangan ekspor.

Yakni dimana tujuannya untuk meningkatkan PDB. “Nilai ekspor, dan tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif. Saat ini, konstribusi ekonomi kreatif ada di urutan ketiga ke PDB,” ujar Sandi.

Adapun urutan kesatu sebut dia, adalah Amerika Serikat dengan Hollywood-nya, dan nomor dua yakni Korea Selatan dengan K-pop.

Lebih lanjut dia menjelaskan, subsektor industri ekonomi kreatif yang paling berkontribusi terhadap PDB Indonesia adalah fashion yang mencapai 9 miliar dolar AS, kriya atau handycraft yang mencapai 4,9 miliar dolar, dan kuliner yang mencapai 1 miliar dolar.

“Ya memang kontribusi industri kuliner Indonesia terhadap PDB masih rendah. Padahal kita memiliki ragam kuliner nusantara. Kita akan dorong untuk ekspor produk ekonomi kreatif kuliner,” ujarnya.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki, saat memaparkan materi tentang UMKM pada webinar bertanjuk Pembiayaan dan Adaptasi UMKM di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Selasa (20/4/2021). -Foto: Sri Sugiarti

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki menegaskan,  kontribusi UMKM terhadap ekspor Indonesia masih rendah, yaitu sebesar 14,37 persen.

Sehingga Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation), yang telah mencapai 35 persen.

“Padahal, UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional, tapi masih sulit menembus pasar ekspor,” ujar Teten, pada acara yang sama.

Hal ini menurutnya, karena minimnya pengetahuan pelaku UMKM tentang pasar luar negeri, kualitas produk, dan kapasitas produksi.

Selain itu kata dia, pelaku UMKM juga terkendala biaya sertifikasi yang tidak murah hingga kendala logistik. Sehingga Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) bergerak menyelesaikan masalah ini untuk mendapat solusi terbaik.

Kendala lainnya juga yakni UMKM juga dihadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah naiknya tarif pengiriman barang 30-40 persen.

“Berkurangnya volume ekspor, impor dan penerbangan international juga persoalan yang dihadapi pelaku UMKM.Jadi, memang sistem logistik dunia sedang terganggu,” tandasnya.

Pemerintah mendukung UMKM untuk melakukan ekspor, tapi kendalanya  tidak hanya secara mandiri menggunakan kontainer. Tapi juga kata Teten,  penjualan langsung ke marketplace digital.

“Nah, kaitan konstribusi UMKM ke PDB itu sebesar 60 persen, dan menyerap tenaga kerja sebesar 97 persen,” pungkasnya.

Lihat juga...