Tumis ‘Suung Rampak’ Kuliner Lezat yang Langka

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Tidak setiap saat orang dapat menikmati kelezatan suung (jamur) rampak. Bahkan banyak yang meyakini, hanya mereka yang beruntung saja yang bisa menikmati jamur berwana putih dan berbentuk payung tersebut.

“Kalau nemu suung itu rasanya seperti nemu harta karun. Jarang sekali ada yang nemu begini. Dia tumbuh sendiri dan tidak ada yang jual, meskipun di pasar,” kata Juhana, Sabtu (3/4/2021) di Desa Ancolmekar, Arjasari, Kabupaten Bandung.

Juhana, warga Desa Ancolmekar, Arjasari, Kabupaten Bandung sedang mengambil suung rampak yang tumbuh di kebun miliknya, Sabtu (3/4/2021). Foto: Amar Faizal Haidar

Suung rampak merupakan jamur liar. Menurut Juhana, sampai saat ini belum ditemukan cara budi daya yang tepat untuk jamur ini. Biasanya, suung tumbuh dan hidup pada musim hujan terutama saat angin berhembus dari barat.

“Biasanya dia tumbuhnya di kebun atau di pinggir rumah, terutama di atas sarang rayap atau pada tanah yang kandungan organiknya bagus. Dia tumbuh juga tidak sendiri-sendiri, tapi langsung banyak di permukaan tanah. Cuma jangan dibiarkan lama, bisa langsung rusak. Makanya untung-untungan bisa dapat suung,” terang Juhana yang baru saja menemukan suung di dekat kebunnya.

Juhana mengaku sangat menyukai suung karena rasanya yang nikmat dan teksturnya yang empuk, apalagi, kata Juhana jika ditumis dan dicampurkan dengan daun kemangi (suraung).

“Wah mantap pokoknya. nggak usah cari lauk pauk lagi, cukup nasi dan tumis suung udah nikmat kita makan, spesial karena tidak selalu ada,” ucap Juhana.

Di tempat yang sama, Wiwin Winaningsih, istri Juhana mengungkapkan hal serupa. Ia yang saat ditemui sedang mengolah suung rempak mengatakan, cara memasaknya sangat mudah. Cukup siapkan bawang merah, bawang putih, penyedap rasa, garam dan kemangi atau daun bawang.

“Diiris-iris saja bawangnya, terus tumis. Kalau sudah terasa aroma wanginya, masukkan suung. Lalu tambahkan penyedap rasa sesuai selera. Habis itu masukkan daun bawang, aduk lagi sampai merata, dan beres,” jelas Wiwin.

Lebih lanjut, Wiwin mengatakan, suung memiliki kandungan air yang cukup tinggi. Oleh karena itu, ketika ditumis ia akan memunculkan kuah. Dengan demikian, tidak perlu lagi ditambahkan air.

“Ini makanan favorit keluarga saya. Spesial memang. Mungkin dalam setahun itu cuma dua kali kita bisa makan suung. Kebetulan alhamdulillah ada di kebun, jadi bisa nikmatin kelezatannya,” pungkas Wiwin.

Lihat juga...