Usaha Kemplang di Lamsel Berusaha Bertahan di Tengah Pembatasan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Usaha kecil skala rumah tangga pembuatan kemplang yang bertahan dukung mata rantai usaha kecil di Lampung Selatan. Sejenis kerupuk berbahan tepung dan daging ikan tenggiri tersebut tetap berproduksi meski pandemi Covid-19 telah berlangsung setahun.

Sulistyono, produsen kemplang Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebutkan, banyak pihak yang dilibatkan dalam produksi, mulai dari nelayan untuk menyediakan ikan tenggiri hingga produsen arang kayu dan tenaga kerja.

Sulistyono menyebut sejak setahun terakhir akibat pandemi, produksi berkurang hingga 50 persen. Produk kemplang yang dikemas dominan penuhi permintaan pengecer di pelabuhan Bakauheni dan Cilegon, Banten. Sebagian dikirim ke toko oleh oleh di Jalan Lintas Sumatera.

“Produksi kemplang tetap berlangsung untuk memenuhi pasokan distributor, sebab jika berhenti total pelanggan akan beralih ke produsen lain,” terang Sulistyono saat ditemui Cendana News, Selasa (6/4/2021).

Sulistyono juga menyebut tetap bertahan produksi jadi langkah menjaga mata rantai bisnis. Ia tetap bisa mempertahankan keberlangsungan pasokan bahan baku hingga tenaga kerja. Hasilnya ia bisa tetap mendapat keuntungan kotor hingga Rp5 juta sekali produksi. Hasil kotor tersebut digunakan untuk upah karyawan, belanja modal bahan baku dan distribusi.

Penurunan permintaan kemplang terjadi imbas pembatasan pelaku perjalanan. Sebelumnya permintaan meningkat saat aktivitas mudik. Sebelum mudik lebaran Idul Fitri dilarang ia bisa menjual hingga 100 ball kemasan kemplang. Setiap ball berisi berisi 100 kemasan kemplang.

“Produksi memang dikurangi menyesuaikan tingkat distribusi dan penjualan di pengecer karena mudik lebaran dibatasi,” cetusnya.

Berjualan kemplang sebut Sulustyono kerap jadi usaha musiman. Saat bulan Ramadan kemplang jadi kuliner alternatif untuk camilan. Sebagian pedagang musiman memilih menjual kemplang bersama dengan hidangan berbuka atau takjil. Kemplang juga menjadi oleh oleh bersama keripik, makanan ringan lain dengan keuntungan Rp3.000 hingga Rp4.000 per bungkus.

“Saat saya masih produksi maka lapangan pekerjaan sektor usaha kecil jadi peluang,”tegasnya.

Sulistyono, pemilik usaha pembuatan kerupuk kemplang di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan mempersiapkan produksi kemplang untuk kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri, Selasa (6/4/2021). Foto: Henk Widi

Lestari, salah satu pekerja menyebut tetap bisa mendapat upah saat membuat kemplang. Pekerja memiliki tugas mencetak, menjemur, memanggang hingga mengemas. Eksistensi usaha kemplang yang ditekuni Sulistyono sebutnya ikut membantu warga.

Lestari menyebut bekerja di usaha pembuatan kemplang jadi pengisi waktu luang. Pekerjaan tersebut dilakukan di luar ruangan dengan proses pemanggangan memakai anglo. Selama masa pandemi tanpa adanya aktivitas anak sekolah memungkinkan ia bekerja.

Distributor dan pengecer kemplang, Hasanudin menyebut mengurangi penjualan. Pada kondisi normal ia menyediakan hingga 10 ball kemplang untuk dijual di terminal Bakauheni. Sejumlah pengecer di area dermaga menjual kemplang darinya dengan menetapkan harga pokok.

Rencana pemerintah melarang mudik saat Idul Fitri sebutnya dipastikan berdampak. Bagi pelaku usaha kecil tanpa ada mudik dipastikan pelaku perjalanan via kapal laut berkurang. Dampaknya volume penjualan akan menurun. Sebagai antisipasi ia tetap menjual produk oleh oleh dengan jumlah terbatas.

Lihat juga...