Lebaran CDN

Warga di Adonara Keluhkan Mahalnya Harga Minyak Tanah

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Minyak tanah yang biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak oleh masyarakat di Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sejak terjadinya banjir bandang mengalami kelangkaan.

“Di kota Larantuka saja, minyak tanah langka sejak sebulan terakhir. Di pangkalan pun selalu kosong,” kata Maria Yuliana, warga Kelurahan Lokea, Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, saat ditemui di rumahnya, Selasa (13/4/2021).

Maria mengakui minyak tanah di pangkalan kadang baru tersedia dua minggu sekali, bahkan hingga sebulan sekali baru dipasok.

Warga Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT, Anisah, saat ditemui di Waiwerang, Selasa (13/4/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dirinya pun memilih membeli di Pasar Inpres Larantuka dengan harga Rp30 ribu hingga Rp35 ribu, untuk ukuran jerigen 5 liter.

“Kalau minyak tanah di pangkalan tersedia, orang banyak antre. Ini seperti di zaman dahulu saja setelah kemerdekaan. Pemerintah harusnya mengatasi hal ini,” sesalnya.

Hal senada disampaikan oleh Anisah, warga Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, yang mengaku kesulitan memperoleh minyak tanah di pasar Waiwerang untuk memasak.

Anisah mengatakan, meskipun di desanya ada posko dan dapur umum untuk pengungsi, namun dirinya bersama warga lainnya yang tidak terlalu terdampak bencana banjir bandang memilih memasak di rumah.

“Meskipun ada dapur umum, namun kami memilih memasak di rumah saja. Rumah saya pun tidak terkena bencana sehingga masih bisa ditempati,” ujarnya.

Namun, Anisah mengaku kesulitan memperoleh minyak tanah di pasar Waiwerang, dan meskipun tersedia harga jualnya selangit hingga mencapai Rp10 ribu per liternya.

Dia berharap, pemerintah bisa mengatasi permasalahan kelangkaan minyak tanah dan melonjaknya harga jual, apalagi warga sedang mengalami musibah banjir bandang.

“Pemerintah harus segera mengatasi permasalahan kelangkaan minyak tanah. Kasihan kami sedang dilanda bencana, sehingga belum bisa bekerja mencari uang,” ucapnya.

Pantauan Cendana News, warga Desa Waiburak maupun Kelurahan Waiwerang saban hari selalu mendatangi pasar Waiwerang dengan menenteng jerigen ukuran 5 liter.

Beberapa warga terlihat kecewa, karena minyak tanah tidak tersedia sehingga harus pulang dengan tangan hampa dan memilih makan di dapur umum posko penampungan pengungsi di Desa Waiburak, dan beberapa lokasi lain di Kelurahan Waiwerang Kota.

Lihat juga...