Lebaran CDN

Warga di Lembata Pilih Mengungsi ke Kebun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LEWOLEBA – Pasca-banjir bandang yang melanda desa-desa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak penduduk memilih mengungsi di pondok-pondok yang berada di kebun.

“Mereka beralasan saat ini sedang memasuki musim panen. Hamparan lahan pertanian ini juga dipandang nyaman buat mereka dari potensi banjir susulan,” kata Kanis Soge, relawan Posko Barakat, Kelurahan Lewoleba Tengah, Kabupaten Lembata, NTT, saat dihubungi, Kamis (15/4/2021).

Relawan Posko Barakat di Kelurahan Lewoleba Tengah, Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, NTT, Kanis Soge, saat ditemui di poskonya, Rabu (7/4/2021). Foto: Ebed de Rosary

Kanis katakan, jika terjadi hujan dengan curah hujan yang tinggi mereka merasa lebuh aman berada di pondok di areal kebun.

Ia menyebutkan, pilihan mengungsi ini memilikk risiko tersendiri yang harus dihadapi para pengungsi.

Risiko itu kata dia, antara lain ketersediaan air minum bersih di mana para pengungsi mengonsumsi air minum dari sumur yang belum tentu memenuhi standar kesehatan.

“Ketersediaan MCK yang berkualitas dan memadai. Keadaan ini bisa saja menjadi faktor penyebab diare karena pola buang air besar di lahan kebun,” ungkapnya.

Kanis menambahkan, air limbah cucian alat makan yang merembes di sudut-sudut pondok menjadi tempat sarang nyamuk dimana hal ini berpotensi terserang penyakit malaria.

Selain itu paparnya, alat perkakas dapur yang berserakan serta pakaian kotor yang tersebar di setiap sudut rumah berpotensi menjadi sarang lalat dan kutu busuk.

“Dari sekian kondisi ini maka sangatlah diharapkan adanya intervensi bantuan dari pemerintah maupun para donatur,” ujarnya.

Kanis berharap ada strategi manajemen pendistribusian bantuan sesuai dengan azas kebutuhan prioritas.

Dia tegaskan, untuk mencapai ke arah itu sangat diperlukan metode pendataan yang akurat dan sistematis tentang keberadaan pengungsi.

Sementara itu, Benediktus Bedil, Koordinator Posko Pengungsi Barakat mengharapkan agar pemerintah melakukan pendataan warga yang mengungsi ke kebun-kebun.

Ben sapaannya menyebutkan, memang saat musim panen padi dan kacang tanah warga memilih menetap sementara di kebun mereka, namun mengingat kondisi bencana saat ini maka perlu didata secara detail.

“Perlu didata secara detail dan bila perlu diberikan bantuan air minum, kasur dan bantal serta pakaian. Pemerintah harus meminta mereka mengungsi setelah selesai panen,” ungkapnya.

Lihat juga...