Lebaran CDN

Waspadai Penyakit Zoonosis pada Hewan Ternak

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Jelang Hari Raya Idulfitri 1442 Hijriah, Dinas Pertanian Kota Semarang, memperketat pengawasan hewan ternak, yang datang dari luar kota. Hal ini menjadi upaya dalam pencegahan penularan penyakit zoonosis, atau penyakit yang bersumber dari hewan dan dapat ditularkan kepada manusia.

“Setiap hewan ternak yang masuk ke Kota Semarang, wajib memiliki dokumen Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Ini menjadi upaya kita dalam mencegah masuknya hewan ternak yang sakit, sebab ada banyak penyakit zoonosis yang patut kita waspadai,” papar Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, saat dihubungi di Semarang, Jumat (30/4/2021).

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, saat dihubungi di Semarang, Jumat (30/4/2021). Foto: Arixc Ardana

Selain antraks atau cacing hati pada sapi, juga perlu waspada dengan penyakit jembrana atau keringat darah. Khusus untuk jembrana ini, umumnya menyerang pada sapi Bali.

“Penyakit jembrana ini, merupakan penyakit hewan menular pada sapi Bali yang disebabkan oleh virus. Untuk mengantisipasi dalam upaya pencegahan, kita juga masih melarang masuknya sapi Bali ke Kota Semarang, sebab secara  medis rentan membawa penyakit tersebut, dan dikhawatirkan dapat menulari hewan yang lain,” tandasnya.

Hernowo menandaskan, pelarangan tersebut sesuai dengan UU nomor 41 tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan. Disebutkan, hewan yang berpotensi membawa penyakit yang menular antara hewan dan manusia, dilarang masuk ke provinsi yang bebas dari penyakit tersebut.

“Namun yang kita larang hanya hewan sapi Bali, hewan ternak hidup, bukan dagingnya. Kalau daging sapi Bali, sama sehatnya dengan daging sapi jenis lainnya, sehingga kita perbolehkan masuk ke Kota Semarang untuk mencukupi kebutuhan konsumsi daging masyarakat. Daging sapi ini juga aman untuk dikonsumsi,” tandas Hernowo.

Terkait pencegahan daging oplosan atau campuran, yang juga berpotensi terjadi, apalagi mendekati Hari Raya Lebaran, pihaknya memastikan sudah memperketat pemeriksaan lalu lintas daging hingga sidak ke pasar tradisional, toko daging hingga supermarket.

“Sesuai aturan, untuk memastikan daging sapi yang akan diperjual belikan merupakan daging sehat dan layak konsumsi, ada proses karantina dan tes kesehatan di pos daging sapi Gayamsari. Jika dinyatakan layak, baru didistribusikan ke pedagang untuk dijual ke masyarakat. Termasuk mempersyaratkan surat sehat untuk hewan-hewan yang datang ke Semarang,” bebernya.

Bersama dinas terkait, pihaknya juga mengintensifkan sidak ke pasar-pasar tradisional, toko daging hingga pusat perbelanjaan, untuk mengecek kondisi daging yang dijual kepada masyarakat.

“Di satu sisi, kita juga mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan pemeriksaan daging terlebih dahulu sebelum membelinya. Pastikan kondisi daging tersebut masih dalam kondisi segar. Ini bisa dilihat dari warna daging yang cerah, tidak berlendir atau mengeluarkan air, tidak mengeluarkan bau menyengat, serta tekstur daging kenyal dan padat,” tandasnya.

Terpisah, salah seorang peternak sapi, Wagino, mengaku sudah tahu soal pelarangan jual beli atau ternak sapi Bali di Kota Semarang.

“Selama ini belum pernah ternak sapi Bali, umumnya yang jenis Brahman, karena sudah umum menjadi pilihan para peternak sapi di sini,” papar warga Gunungpati Semarang tersebut.

Sejauh ini terkait penyakit zoonosis, dirinya mengaku seluruh sapi yang diternakkannya dalam kondisi sehat. Meski ada 1-2 yang terkadang sakit.

“Namun umumnya sakit karena faktor cuaca, seperti kembung atau diare karena makan rumput yang masih basah, setelah diobati juga langsung sembuh,” pungkasnya.

Lihat juga...