Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan Jaga Lingkungan Berkelanjutan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Wilayah perairan Teluk Lampung jadi salah satu area tangkap nelayan. Sejumlah alat tangkap digunakan berupa jaring, alat pancing, bubu kawat. Kombinasi jaring atau waring dalam konstruksi bangunan bambu, kayu menjadi bagan apung jadi salah satu alat tangkap ramah lingkungan.

Wasidi, warga Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung menyebut bagan apung jadi alat tangkap ramah lingkungan. Bagi sebagian nelayan yang tinggal daratan dan sekitar pulau Pasaran, bagan apung jadi modal mendapat ikan.

Penggunaan bagan apung sebut Wasidi jadi pilihan nelayan yang memiliki modal cukup. Sebab proses pembuatan membutuhkan biaya berkisar Rp30 juta hingga Rp50 juta. Bagan dengan ukuran kecil hingga besar dilengkapi jaring pada bagian tengah. Jaring berfungsi sebagai lokasi jebakan ikan dengan lampu tenaga genset dipasang pada bagian atas.

“Saat bulan gelap sebelum ada tenaga genset kami mempergunakan lampu petromak tenaga minyak tanah, kini memanfaatkan lampu tenaga genset untuk menarik serangga jenis laron dan serangga lain, saat jatuh di area perangkap jaring ikan pelagis atau permukaan berkumpul lalu bisa diangkat saat ada ikan laut,” terang Wasidi saat ditemui Cendana News, Rabu (19/5/2021).

Setelah ikan berkumpul oleh cahaya lampu, umpan serangga proses pengangkatan ikan dengan kerek. Proses penangkapan menyesuaikan musim sebab tidak setiap hari musim ikan. Berbagai jenis ikan diantaranya teri, tanjan, layur, selar dan sejumlah ikan pelagis bisa ditangkap.

Wasidi menyebut hasil tangkapan ikan dari bagan apung bisa diolah keluarganya. Setelah proses pengeringan ikan kering dijual dengan harga Rp70.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Hasil penjualan ikan sebutnya bisa dipergunakan untuk perbaikan bagan. Sebab daya tahan bagan apung bisa mencapai sekitar dua tahun.

“Pemilihan bahan baku jenis bambu, kayu berkualitas jadi langkah untuk menjaga keawetan bagan namun tetap perlu perbaikan,” ulasnya.

Selain memanfaatkan bagan apung sebagian nelayan memakai alat pancing. Jenis pancing yang digunakan berupa rawe dasar dan joran. Umpan yang digunakan berupa cumi cumi, udang. Alat tangkap ramah lingkungan tersebut digunakan warga dengan memanfaatkan perahu ketinting.

Penggunaan alat tangkap pancing dilakukan Ujang, salah satu warga di pulau Pasaran. Perbatasan pulau Pasaran dan pulau Sumatera yang ditumbuhi vegetasi mangrove jadi habitat ikan. Berbagai jenis ikan laut yang diperoleh dengan sistem pancing berupa simba, kerapu dan ikan lapeh.

“Memakai alat tangkap tradisional ramah lingkungan sekaligus menjaga habitat ikan agar tetap berkembang,” ulasnya.

Bubu kawat jadi salah satu alat tangkap di sekitar vegetasi mangrove Kelurahan Kota Karang, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung, Rabu (19/5/2021). Foto: Henk Widi

Sebagian warga yang tinggal dekat vegetasi mangrove memanfaatkan bubu tancap dan bubu kawat. Bubu yang dibuat dengan bambu, kawat berguna untuk mendapat hasil tangkapan ikan kerapu, kepiting dan udang. Sunarto, salah satu nelayan memasang bubu yang jumlahnya mencapai ratusan.

Bubu kawat sebutnya jadi alat tangkap efektif untuk penangkapan ikan. Menggunakan umpan usus ayam, daging ayam, kelapa dan umpan lain hasil tangkapan diperoleh dalam kondisi hidup. Sebagian ikan hasil tangkapan akan ditampung bahkan dibesarkan.

Wahyuni, salah satu pedagang ikan di Pasar Gudang Lelang, Teluk Betung menyebut ikan segar diperoleh dari nelayan. Hasil tangkapan nelayan berasal dari nelayan bagan apung, bagan congkel, nelayan pancing dan bubu. Berbagai jenis ikan hasil tangkapan dengan alat tangkap ramah lingkungan menyediakan ikan segar. Pasokan ikan juga selalu terpenuhi dengan lancarnya hasil tangkapan nelayan.

Lihat juga...