Angka Covid-19 Melonjak, BOR di Kudus Capai 90 Persen

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Penambahan kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus yang melonjak tiba-tiba, menyebabkan BOR (Bed Occupancy Rate) atau angka keterisian ruang rawat inap rumah sakit di wilayah tersebut, dalam penanganan pasien Covid-19, telah mencapai 90 persen.

“Ini artinya, kita harus menyiapkan langkah antisipasi. termasuk menyiagakan rumah sakit di sekitar Kudus untuk dapat menerima rujukan pasien Covid-19. Saat ini, kita telah menugaskan RS Wongsonegoro di Semarang untuk dapat merawat pasien dari Kudus dan sekitarnya,” papar Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo di Semarang, Jumat (28/5/2021).

Tidak hanya itu, pihaknya juga melatih tenaga kesehatan yang ada di dua rumah di Kudus yang menjadi rujukan perawatan covid-19, yakni RSUD Loekmono Hadi dan Rumah Sakit Mardi Rahayu.

“RSUD Loekmono Hadi juga meningkatkan tempat tidur hampir dua kali lipat. Rumah Sakit Mardi Rahayu juga melakukan hal serupa. Termasuk dengan meningkatkan kapasitas sumber daya. Kita juga latih untuk merawat di ruang isolasi atau di intensive care unit (ICU),” lanjutnya.

Secara umum, seluruh lini rumah sakit di Jateng siap menangani pasien Covid-19. Dengan rincian sebanyak 13 unit RS di lini pertama, lini dua 63 unit dan rumah sakit lini tiga sebanyak 162 unit.

“Pembagian lini tersebut berdasarkan tingkat keparahan pasien yang dapat dirujuk, di fasilitas tersebut. Contohnya, rumah sakit lini satu diharapkan bisa merawat mereka dalam kondisi kritis. Sedangkan, kalau mereka yang sakit sedang atau ringan, dapat dirawat di rumah sakit lini satu atau dua,” terangnya.

Di satu sisi, dirinya memprediksi peningkatan kasus tersebut terjadi akibat munculnya kerumunan pada saat libur Lebaran lalu. Hal tersebut ditambah, penerapan protokol kesehatan (prokes) yang tidak disiplin.

“Hari ini dan kemarin, menurut teori epidemiologi merupakan masa inkubasi adalah 2-14 hari, kalau terjadi penularan memang masa-masa kritis. Maka, satu minggu ke depan kita harus betul-betul waspada dan siap siaga, untuk mengantisipasi apabila ada lonjakan kasus. Kewaspadaan tersebut tidak hanya di Kabupaten Kudus, namun juga seluruh kabupaten/kota di Jateng,” tegasnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang Abdul Hakam, juga memastikan kesiapan RS rujukan Covid-19 di Kota Semarang, dalam menghadapi lonjakan kasus.

“Kita sudah minta seluruh rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Semarang, untuk mengaktifkan kembali ruang perawatan. Hal ini menyusul, beberapa wilayah mencatatkan kenaikan kasus penularan Covid-19,” terangnya.

Dijelaskan saat ini, tempat isolasi rumah sakit di Kota Semarang di angka 1.000-an tempat tidur, turun dari sebelumnya, 1.200 tempat tidur. Sedangkan rumah dinas sebagai tempat isolasi terpusat milik pemkot, ada 170 tempat tidur, dengan tingkat keterisian di bawah 50 persen.

“Kita minta rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Semarang, untuk mengantisipasi adanya lonjakan kasus Covid-19. Termasuk juga tempat isolasi terpusat di rumah dinas Wali Kota Semarang juga kita siapkan. Termasuk juga menyiapkan kembali tempat tidur isolasi sebagai antisipasi lonjakan,” lanjut Hakam.

Pihaknya juga sudah meminta seluruh puskesmas di Kota Semarang, untuk kembali mengintensifkan pengawasan, jika ada kasus baru Covid-19 di lingkungan masyarakat. “Sesuai dengan prosedur, jika ada yang terpapar, dari puskesmas langsung melakukan tracing atau penelusuran ke lini 1 yang berkaitan langsung dengan kasus, atau pun lini 2 yang tidak berinteraksi secara langsung,” pungkasnya.

Lihat juga...