Atraktor Tingkatkan Potensi Tangkap Cumi dan Famili

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Atraktor sebagai upaya pengayaan stok cumi-cumi, ternyata bukan hanya berpotensi meningkatkan jumlah tangkap cumi-cumi saja. Namun juga mampu meningkatkan potensi tangkap, paling tidak untuk enam jenis famili ikan yang berasosiasi di kawasan yang sama.

Dosen Teknologi Penangkapan Ikan Politeknik AUP-STP Jakarta, Dr. Danu Sudrajat, Api., MAP., menyatakan dari hasil data pantauan, dari luas wilayah perikanan Indonesia yang totalnya sekitar 5,8 juta kilometer persegi, cumi-cumi merupakan sektor yang paling sedikit ditangkap.

“Pemerintah berusaha menciptakan teknologi tepat guna dalam menangkap cumi-cumi, tanpa menimbulkan dampak negatif pada lingkungan maupun menjaga kelestarian sumber daya dan berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan atraktor cumi-cumi, yang tidak hanya berpotensi meningkatkan jumlah tangkap cumi-cumi, tapi juga membuka peluang penangkapan enam famili lainnya,” kata Danu, dalam acara edukasi online AUP, Senin (10/5/2021).

Dosen Teknologi Penangkapan Ikan Politeknik AUP-STP Jakarta, Dr. Danu Sudrajat, APi, MAP, menjelaskan upaya pengayaan cumi-cumi dengan menggunakan atraktor, dalam acara edukasi online AUP, Senin (10/5/2021). -Foto: Ranny Supusepa

Ia menjelaskan, atraktor cumi-cumi merupakan tempat bagi cumi-cumi meletakkan telurnya.

“Cumi-cumi ini unik, karena saat mau bertelur ia akan mendekati pantai dan mencari tempat yang remang-remang, dan agak tertutup serta tidak terganggu arus. Biasanya, cumi-cumi menempelkan telurnya di dalam karang, tali bahkan pada bubu nelayan. Karena itu, dengan hadirnya atraktor ini, maka diharapkan cumi-cumi akan menempelkan telurnya di sana,” ujarnya.

Selain membantu perkembangbiakan cumi-cumi, kehadiran atraktor cumi-cumi ini juga bisa menjadi tempat berkumpulnya ikan yang bisa dijadikan sebagai awal pengembangan pantai terpadu.

“Sehingga, budi daya cumi-cumi bisa didapat. Di sisi lain, pengembangan wisata bahari pemandangan bawah air juga dapat dilakukan oleh masyarakat sekitar pantai,” ujarnya, lebih lanjut.

Danu menjelaskan, pengembangan atraktor cumi-cumi ini dimulai pada 2006, dengan bentuk melingkar dari bahan lembaran kawat dan tali atraktor berada di tengah.

“Ini dikembangkan lagi pada 2007,  dengan mengganti bahannya dengan bambu dan karung goni. Perkembangan berikutnya, pada 2013 dibuat atraktor cumi-cumi yamg menggunakan tali PE untuk menggantung bangunan atraktor cumi-cumi, dan pada 2015 dibuat dari drum bekas aspal atau minyak yang digabung dengan rangkaian kayu. Baru pada 2019, kita menggunakan pipa PVC yang lebih mudah dirangkai. Tapi, untuk tali atraktor tetap menggunakan tali ijuk,” paparnya.

Telur cumi-cumi yang menempel pada tali atraktor akan menetas pada hari ke 23 hingga 25.

“Saat menetas, bentuknya sudah serupa dengan dewasa. Sudah memiliki tentakel juga. Hanya panjangnya baru sekitar 5 cm saja. Untuk makanan awal, anak cumi-cumi ini akan memakan si kantong telur,” paparnya lebih lanjut.

Selain membantu pengembangbiakan cumi-cumi, atraktor cumi-cumi ini juga membangkitkan ketertarikan jenis famili ikan lainnya untuk berdekatan dengan atraktor.

“Ada enam famili ikan yang berasosiasi dengan atraktor ini, secara berurut yaitu Lukcanidae yang merupakan sejenis Kakap, Chaetodontidae yang merupakan sejenis Kepe-kepe, Acanthuridae yang merupakan sejenis Parakan, Mullidae yang merupakan sejenis Kuniran, Labridae yang merupakan sejenis Napoleon dan Siganidae yang merupakan sejenis Baronang. Sehingga bisa dilihat, atraktor ini bukan hanya memberikan peluang mendapatkan cumi-cumi, tapi juga ikan konsumsi lainnya,” kata Danu.

Selama proses peletakan telur, ia menegaskan perlu dipastikan kondisi atraktor tetap dalam kondisi bersih, dengan dilakukan perawatan teratur. Sehingga cumi-cumi mau terus datang untuk bertelur.

“Perawatan ini juga dilakukan untuk mengambil telur cumi-cumi, untuk dipindahkan ke bagan atau keramba jaring apung. Karena, selain berasosiasi dengan ikan untuk dipancing nelayan, keberadaan telur cumi-cumi ini juga menarik predator. Seperti penyu yang jika tidak dijaga akan bisa menghabiskan telur yang menggantung di tali atraktor,” ujarnya.

Ia menyebutkan, dengan adanya atraktor cumi-cumi ini, peluang untuk meningkatkan penangkapan cumi-cumi akan bisa dilakukan oleh pemerintah, dan berpeluang membuka penangkapan famili ikan yang lainnya dan juga pengembangan pantai terpadu.

“Ke depan, akan dilakukan upaya pengkajian untuk pembesaran. Karena saat ini baru hanya untuk peletakan telur, sementara penetasan masih harus dilakukan di keramba jaring apung.  Kami sedang melakukan penelitian beberapa alternatif, agar penetasan dan pembesaran tetap bisa dilakukan di atraktor. Tapi, tanpa mengurangi jumlah famili ikan yang berasosiasi,” pungkasnya.

Lihat juga...