Banyak Lansia Tidak Memiliki KTP

Para lansia saat melakukan interaksi dengan para perawat BRSLU Gau Mabaji Gowa – Foto Ant

MAKASSAR – Peringatan Hari Lanjut Usia, yang diperingati setiap 29 Mei setiap tahunnya, menyisakan catatan khusus di Gowa, masih banyak warga Lanjut Usia (Lansia) yang belum memiliki identitas diri atau Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (BRSLU) Gau Mabaji Gowa, Wahidin menyebut, pihaknya kerap mendapati lansia yang tidak memiliki identitas apapun. Hal tersebut menyulitkan untuk mendapatkan bantuan. “Kami banyak mendapati orang tua yang tidak punya identitas, karena mereka pernah merantau keluar negeri dan setelah tua baru kembali ke Tanah Air. Itu banyak sekali,” ujarnya, Sabtu (29/5/2021).

BRSLU Gowa, diketahui menaungi 10 provinsi se-Indonesia, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.

Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (BRSLU) Gau Mabaji Gowa, Wahidin – foto Ant

Kasus lansia tanpa identitas, banyak didapati di berbagai wilayah kerja BRSLU Gowa. Sementara BRSLU menitik beratkan seluruh aksi di masyarakat, lewat Atensi Lanjut Usia yang merupakan Layanan Rehabilitasi Sosial melalui pendekatan berbasis keluarga, komunitas dan atau residensial.

Salah satunya, melalui pemenuhan kebutuhan hidup layak para lansia, seperti pangan, kesehatan, tempat tinggal dan kebutuhan lainnya. Hanya saja, Wahidin menyebut, bantuan akan sulit disalurkan, jika calon penerima tidak memiliki identitas, sebab secara sistem, data penerima akan diinput pada satu sistem yang disebut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). “Banyak lansia mantan pekerja migran. Banyak yang tidak memiliki KTP, ini salah satu kendala kita dan susah untuk diintervensi,” tandasnya.

BRSLU Gowa mencatat, telah melakukan bantuan rehabilitasi sosial kepada 8.900 lansia dan 600 lansia menerima bantuan sembako di 2020. Sementara pelayanan lansia di panti rehabilitasi ditutup sementara akibat COVID-19, kecuali beberapa lansia yang tidak lagi memiliki keluarga. Di 2021, BRSLU Gowa yang kini telah beralih dari panti menjadi balai rehabilitasi, sejak 2019 tidak lagi fokus pada perawatan lansia di dalam panti.

Lebih dioptimalkan pada lansia di luar panti, melalui pelibatan keluarga lansia atau orang-orang terdekatnya. “Kami punya pendamping lansia yang berasal dari orang-orang terdekatnya, satu orang membawahi tiga lansia di sekitar tempat tinggalnya atau keluarganya sendiri. Mereka kita beri pelatihan perawatan lansia keluarga, termasuk mencatat kebutuhan para lansia, lalu assesment kebutuhan tersebut ke lansianya,” urai Wahidin.

Hingga April 2021, Program Atensi di Balai Lansia Gau Mabaji telah menyasar 863 lansia lewat basis pendekatan keluarga, ditambah tujuh orang melalui pendekatan residensial lewat pelayanan langsung di BRSLU Gowa yang terletak di Jalan Poros Malino, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Di 2021, BRSLU Gowa ditargetkan bisa memberikan layanan atensi kepada 12.590 orang lansia di 10 provinsi se Indonesia. (Ant)

Lihat juga...