Bentuk dan Cara Pemupukan Pengaruhi Hasil Pertanian

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Pemupukan merupakan bagian dari literasi pertanian yang tidak boleh dikesampingkan maknanya. Karena ketepatan cara dan bentuk pemupukan, tidak hanya mempengaruhi hasil pertanian, tapi juga mempengaruhi keberlanjutan lahan yang digunakan.

Kepala Balai Penelitian Tanah, Dr. Ir. Ladliyani Retno Widowati, M.Sc., menyatakan pemupukan berimbang merupakan suatu sistem pemupukan yang proporsional sesuai dengan kebutuhan.

“Pemupukan dalam jumlah dan jenis hara yang sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman, akan dapat memberikan hasil yang optimal. Jadi, tidak perlu semuanya ditambahkan. Hanya menambahkan yang kurang dan yang dibutuhkan,” kata Retno dalam literasi pertanian online, Senin (24/5/2021).

Sub Koordinator Informasi dan Materi Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) Kementerian Pertanian, Merry, menekankan pentingnya pemahaman petani atau pengelola tanah terkait pengelolaan pertanian berkelanjutan, dalam literasi pertanian online, Senin (24/7/2021). –Foto: Ranny Supusepa

Ia menjelaskan, pemupukan ini bisa dilakukan dengan menggabungkan pupuk organik dan pupuk anorganik sesuai komposisi kebutuhan tanah dan tanaman.

“Artinya, pemupukan berimbang itu harus tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan tepat jenis atau bentuk,” ujarnya.

Dengan melakukan pemupukan berimbang, Retno menyebutkan petani atau pengelola tanah akan mendapatkan manfaat berupa peningkatan produktivitas dan mutu hasil tanaman.

“Selain itu, tentunya efisiensi pemupukan, kesuburan tanah juga akan meningkat dan lingkungan tidak akan tercemar,” paparnya.

Ia menyebutkan lagi, kondisi tanah dan ketidakseimbangan bisa terlihat dari hasil panen oleh para petani atau pengelola lahan.

“Misalnya, tanaman jagung. Daunnya berwarna ungu, tanamannya kerdil dan biji jagung ompong, itu artinya tanah kekurangan unsur phospor. Atau, jika daunnya kuning dan tanamannya stunting, itu artinya kekurangan natrium,” paparnya lebih lanjut.

Ia juga mencontohkan, untuk tanaman padi, yang dibutuhkan adalah 17,5 kg per ton gabah, phospor 3 kg per ton gabah dan kalium 17 kg per ton gabah.

“Jadi untuk memproduksi 6 ton GKG, yang dibutuhkan adalah 233 urea, 50 kg SP-36 dan 170 kg KCL,” tuturnya.

Sementara itu Sub Koordinator Informasi dan Materi Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) Kementerian Pertanian, Merry, menyatakan peningkatan literasi pertanian ini sangat penting dalam meningkatkan hasil optimal.

“Tanah ini harus disayangi. Caranya dengan memberikan perlakuan yang tepat bagi tanah. Sehingga pertanian Indonesia bisa menjadi maju dan mendukung pertanian menuju kesejahteraan,” kata Merry.

Kegiatan pemupukan berimbang ini akan menjadi cara agar pertanian Indonesia dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

“Sudah saatnya pertanian Indonesia dikelola dengan berkelanjutan, dengan meningkatkan literasi para petani atau pengelola lahan. Tentunya, peningkatan literasi terkait pertanian bukan hanya ditujukan kepada petani dan pengelola lahan. Tapi juga para stakeholders, dan para akademisi diharapkan partisipasinya dalam memberikan masukan berbasis ilmiah,” pungkasnya.

Lihat juga...