Budidaya Lengkuas, Perawatan Mudah dan Menjanjikan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BOGOR — Tanam jenis rempah dapur lengkuas menjadi primadona bagi petani yang memiliki lahan terbatas wilayah perkotaan. Di samping pemasaran terbilang mudah, harga stabil dan paling penting tidak perlu perawatan khusus.

Lajak atau lengkuas (Alpinia galagal) adalah salah satu tanaman jenis umbian cukup mudah ditemui di wilayah perbatasan antara Bekasi- Bogor, dengan memanfaatkan lahan kosong ataupun perkarangan rumah.

Salah satunya adalah  Acep, Warga Kampung Cikeas Parung Desa Ciangsana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Memanfaatkan lahan kosong milik perusahaan, ia menanam lengkuas dan pisang sebagai sumber penghasilannya.

“Lengkuas harganya cukup stabil di pasaran, meskipun sekarang kisaran Rp6000 ribuan per kilogram di tingkat pengepul, tapi di pasar tradisional harganya kisaran Rp10 ribu,” ungkap Acep kepada Cendana News, Senin (31/5/2021).

Saat ini usia lengkuas baru 3 bulanan, ia mengistilahkan saat ini masih bibit karena belum berkembang atau rimbun. Jika sudah berkembang maka bibit satu pohon tersebut berkembang menjadi rumpun.

Menurutnya, ada teknik khusus dalam budidaya lengkuas, terutama jarak tanam. Karena setelah tiga bulan satu bibit lengkuas akan berkembang hingga menjadi rumpun yang cukup banyak.

“Saya sekarang tanam di atas lahan sekitar 800 meter persegi. Setelah panen nanti bisa keluar 1 ton lebih, untuk hasil tergantung harga pasar, tapi biasanya kisaran di atas Rp5000 per kilogram,” jelasnya.

Dikatakan tidak ada perawatan khusus selain membersihkan lahan dari rumput liar. Karena untuk pupuk, Acep berinovasi sendiri dengan menumpuk sisa pakan sapi di lahan.

“Pupuknya alami, sisa pakan sapi seperti rumput yang sudah dikencingin sapi, istilahnya jerami sisa pakan sapi ditumpuk begitu saja di lahan, ada juga di batas pohon lengkuas, maka akan tumbuh subur,” ungkapnya.

Terlihat perkebunan pisang, Acep juga banyak tumpukan jerami sisa pakan sapi tepat diakar pohon pisang. Hal itu dipercaya sebagai pupuk alami yang terlihat banyak dipakai petani lain di wilayah setempat.

“Hampir seluruh petani yang budidaya di lahan kosong sekitar Kampung Cikeas Parung Desa Ciangsana ini pupuknya jerami sisa pakan sapi. Mau beli pupuk mahal, coba saja pakai pupuk alami begini, dan hasilnya cukup maksimal,”jelasnya.

Hal senada juga diakui petani lainnya, Sabar, yang budidaya jambu batu di sekitar lokasi tersebut menggunakan rumput sisa pakan sapi yang ditumpuk begitu saja di pohon jambunya.

Ditanya teknik pupuk tersebut istilah dari mana, Sabar mengaku hanya ikut-ikutan saja. Namun demikian dia mengaku hasilnya maksimal pohon jambu berbuah dan tidak ada hama.

“Untuk teori, kami hanya petani biasa yang menggarap lahan kosong perusahaan belum dimanfaatkan. Katanya jerami atau rumput sisa pakan sapi bagus untuk pupuk kami coba saja, toh gratis dan bisa membersihkan kandang dari pada dibuang dan jadi sampah,” ujarnya.

Lihat juga...