Budidaya Tor Soro, Janjikan Nilai Ekonomis Tinggi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Selain memiliki nilai budaya, ikan dewa atau lebih dikenal dengan nama Tor Soro juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dengan mematuhi aturan setiap tahapan, maka target penjualan akan tercapai dengan memastikan berat badan ikan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Peneliti Ikan Dewa Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP), Otong Zaenal Arifin, SPi, MSi, menjelaskan cara tepat membudidaya Tor Soro, saat ditemui di BRPBATPP Bogor, Senin (10/5/2021) – Foto Ranny Supusepa

Peneliti Ikan Dewa Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP), Otong Zaenal Arifin, SPi, MSi, menyebutkan ikan ini merupakan warisan budaya dan merupakan sumber genetik asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomis di domestik maupun ekspor.

“Tor Soro merupakan jenis ikan air tawar yang khas Indonesia yang sangat jarang ditemukan di negara lain. Selain memiliki nilai konservasi juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Karena pada masa dewasa, rerata nilai jual Rp800 ribu per kilogram,” kata Otong saat ditemui di BRPBATPP Bogor, Senin (10/5/2021).

Tor Soro memiliki nilai istimewa. Misalnya di Kuningan Jawa Barat, ikan ini dikeramatkan oleh warga. atau di Lubuk Larangan Sumatera Barat, yang hanya menangkap dan memakan ikan ini pada perayaan Maulid Nabi.

“Selain untuk kebutuhan konsumsi, ikan dewa juga dimanfaatkan untuk edukasi, kesehatan dan konservasi,” ucapnya.

Ia menjelaskan Tor Soro hidup di perairan deras dan berbatu yang kaya akan oksigen. Bisa juga hidup di perairan dangkal dengan dasar batu koral dengan air jernih.

“Sentra perbenihan ada di Aceh Tenggara, Tapanuli Selatan, Bogor, Cianjur, Sumedang, Kuningan dan Pemalang. Sentra pembesaran ada di Subang, Bogor dan Sumedang,” ucapnya lagi.

Ciri fisik, lanjutnya, dapat dilihat pada mulut dan kepala besar, terdapat dua pasang sungut pada moncong dan rahang atas dan cuping rata.

“Betina yang siap pijah memiliki bobot minimal 700 gram dan jantan memiliki bobot minimal 500 gram. Induk diadaptasi pada kolam yang berdasar batu koral, kerikil dan pasir serta kedalaman 1 meter. Berukuran 13 × 5 meter dan kemiringan inlet ke outlet 30 derajat,” papar Otong.

Ia menyampaikan untuk menjaga kualitas, penebaran benih adalah 2 ekor per meter persegi pada kolam yang aliran oksigennya baik.

“Pakan induk harus memiliki kandungan protein paling sedikit 28 persen dan diberikan antara 2-3 kali per hari. Dosisnya 3 persen dari berat badan per hari,” paparnya lagi.

Otong menyebutkan, pemijahan dapat dilakukan secara alami atau buatan.

“Untuk pemijahan buatan dapat dilakukan dengan penyuntikan hormon Ovaprim sebanyak dua kali, yaitu dosis 0.2 ml per kilogram dan dosis 0.4 ml per kilogram yang diberikan selang 8 jam dari penyuntikan pertama,” urainya.

Dilanjutkan dengan stripping yaitu pengambilan telur induk betina dan sperma induk jantan yang dilakukan 14 jam setelah penyuntikan kedua, lalu dicampur.

“Langkah selanjutnya adalah aktivasi, fertilisasi pada telur yang sudah dibuahi lalu penebaran telur dilakukan pada akuarium diaerasi,” kata Otong.

Telur akan menetas dalam rentang waktu 90 hingga 130 jam menjadi larva dan akan dipelihara selama 14 hari dengan pakan Artemia yang diberikan setiap 3-5 jam.

“Panen larva dilakukan pada hari ke-15 atau ukuran larva sudah sekitar 1-1,5 cm dan dipindahkan ke kolam pendederan,” ujarnya.

Jika sudah berukuran 1 hingga 1,5 cm, maka tahapan selanjutnya adalah pendederan 1 dengan sistem RAS atau Resirculation Aquaculture System yang memiliki keunggulan efisiensi air dan ruang dan kualitas air terjaga.

“Pakan yang digunakan adalah pakan tepung dengan kadar protein paling sedikit 40 persen dengan dosis ad libitum (red : tanpa batas) untuk pemeliharaan satu bulan hingga mencapai ukuran panen yaitu panjang ikan 2 hingga 2,5 cm,” ujarnya lagi.

Pendederan 2 dilakukan di kolam tembok atau tanah dengan pakan merupakan campuran pakan tepung dan butiran pakan apung berkadar protein minimal 40 persen dengan dosis ad libitum.

“Pemeliharaan dilakukan selama tiga bulan dan dipanen saat ikan sudah mencapai ukiran 7-8 cm,” tutur Otong.

Pendederan 3 masih dilakukan di kolam tembok atau tanah selama tiga bulan hingga ukuran mencapai 15-17 cm. Pakan yang diberikan hanya pakan apung berdiameter 2 mm dengan kadar protein minimal 40 persen.

“Tahap selanjutnya adalah pembesaran 1 yang masih dilakukan di kolam tembok atau tanah selama satu tahun hingga berat ikan mencapai 200 hingga 250 gram per ekor. Pakan yang diberikan berupa pakan apung atau tenggelam dengan ukuran 2 mm berkadar protein minimal 28 persen dengan dosis 3 persen dari berat badan per hari,” tuturnya lagi.

Pembesaran 2 dilakukan di kolam air deras selama setahun hingga berat mencapai 800 hingga 1.000 gram per ekor.

“Pakan yang diberikan berupa pakan apung atau tenggelam dengan ukuran 2 mm berkadar protein minimal 28 persen dengan dosis 2 hingga 3 persen dari berat badan per hari,” ungkap Otong.

Pembudidaya ikan Dewa di Balong KF Farm Subang, Karmad Faturokhman menyatakan budidaya ikan ini sangat menjanjikan.

“Awalnya saya dapat di kali Cipunagara sekitar tahun 2000. Saya melakukan semua tahapan di balong saya. Saya tertarik karena memang peluang ekspor sangat terbuka ke Hong Kong, Malaysia dan Singapura. Dengan harga pasaran 500 hingga 1 juta per kg,” katanya saat dihubungi terpisah.

Ia menyebutkan untuk luas usaha sekitar 200 meter persegi, butuh modal sekitar Rp140 juta.

“Untuk biaya operasional produksi benih, tiga bulan itu sekitar Rp23 juta. Kalau panen benih, bisa dapat untung sekitar Rp14 juta. Untuk pendederan, untungnya sekitar Rp39 juta dan untuk pembesaran bisa memberikan keuntungan Rp99 juta,” ungkapnya.

Karmad mengungkapkan tidak ada kendala yang berarti dalam budidaya ikan Dewa ini, selama mengikuti arahan dan bimbingan.

“Syukurnya memang saya banyak dibantu oleh BRPBATPP selama melakukan budidaya Tor Soro. Jadi target berat maupun penjualan bisa tercapai sesuai keinginan para pembudidaya,” pungkasnya.

Lihat juga...