Lebaran CDN

Budidaya Vegetatif Cara Mudah Perbanyak Tanaman Sukun

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Komoditas pertanian sukun jadi salah satu bahan pangan cadangan warga di Lampung.  Sukun atau Artocarpus altilis dapat dibudidayakan secara vegetatif, mudah, dan berpotensi memperbanyak tanaman.

Proses budidaya sukun yang cukup mudah diakui Komarudin, warga Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan. Komarudin yang memiliki usaha pembibitan CV Kanza Naura Indah Lestari mengembangkan empat teknik.

Memiliki bentuk seperti nangka dan keluwih, sukun hanya bisa dikembangkan dengan teknik vegetatif. Teknik tersebut meliputi stek akar dan pemindahan tunas alami, pencangkokan indukan. Empat teknik tersebut dilakukan dengan pemilihan indukan produktifitas tinggi dan rasa buah yang enak.

Pada teknik stek akar ia menyebut ciri khas tanaman sukun memiliki akar menyamping. Pada bagian akar menyamping kerap muncul tunas baru. Individu baru sebagai bibit bisa dipisahkan setelah memiliki akar mandiri. Pindahkan dengan pisau ke media tanam polybag atau langsung ke lubang yang dipersiapkan.

“Tahap kedua memakai pencangkokan pada bagian batang yang produktif memakai serabut kelapa yang diberi media tanam tanah subur, metode pencangkokan akan menghasilkan batang berakar sebagai bibit baru untuk dipindahkan ke polybag atau langsung ke lubang media tanam,” terang Komarudin saat ditemui Cendana News, Senin (3/5/2021).

Pemanfaatan lahan pekarangan dan kebun untuk penanaman sukun dan berbagai buah lain dilakukan Komarudin, warga Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (3/5/2021). -Foto Henk Widi

Komarudin bilang dua teknik mendapatkan bibit dari akar tunas alami, pencangkokan mempermudah perbanyakan tanaman. Pesanan bibit sukun sebutnya kerap dipergunakan untuk sejumlah area perumahan, perkebunan dan peneduh jalan, tanaman tepi sungai. Bibit yang disiapkan pada sejumlah polybag akan mudah dipindahkan. Agar cepat berbuah tanaman wajib diberi pupuk organik dan kimia.

Varietas sukun genjah sebut Komarudin bisa berbuah setelah umur 2-4 tahun. Tanaman dengan ketinggian 2-3 meter verietas genjah akan berbuah rutin sepanjang tahun. Namun pohon sukun kerap bisa dipanen dalam jumlah banyak pada bulan Januari hingga Maret. Di luar bulan itu produksi buah tetap ada meski tidak banyak. Buah yang tua ditandai dengan warna kuning kusam, kulit menonjol pada kulit yang rata.

“Buah sukun bisa dimanfaatkan untuk bahan pangan, hasil panen bisa dijual ke pasar untuk berbagai olahan kuliner,” bebernya.

Waljinah, petani di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan menyebut awalnya menanam satu pohon sukun. Masuk tahun kedelapan tanaman itu menghasilkan akar dan tunas. Ia melakukan pemencaran tunas sukun agar bisa menjadi bibit baru. Sebanyak puluhan tanaman sukun berada di kebunnya untuk cadangan bahan pangan.

Menanam sukun yang mudah menjadi komoditas ekonomi. Sebab dalam satu kali panen dari sepuluh batang saja diperoleh minimal satu kuintal sukun. Ia bisa mendapat hasil ratusan ribu dari menjual sukun seharga Rp3.000 per kilogram. Selain dijual sukun bisa diolah dengan cara direbus, diolah menjadi keripik, dibuat nyamplung dengan cara direbus bersama gula.

“Menanam sukun bisa menjadi buah yang berpotensi untuk alternatif bahan pangan yang bisa dipanen sewaktu waktu tanpa mengenal musim,” bebernya.

Warga Bakauheni, Marsinah menyebut buah sukun kaya akan karbohidrat. Ia mengaku mendapatkan bibit dari kerabatnya. Bibit diperoleh dengan cara melakukan pencangkokan lalu dipindah ke media tanam di kebun. Memiliki pohon sukun sebutnya bisa menjadi bahan pangan pengganti beras. Setelah direbus ia akan mencampurkan sukun dengan parutan kelapa dan garam.

Tanaman sukun sebut Marsinah kerap banyak dibutuhkan selama ramadan hingga Idul Fitri. Ia kerap menjadikan komoditas pertanian itu dalam bentuk keripik. Agar tetap bisa memiliki bahan baku sukun ia melakukan regenerasi tanaman. Proses regenerasi tanaman dilakukan untuk mendapatkan bibit yang lebih produktif berbuah lebat.

Lihat juga...