Bupati Banyumas Olah Sampah Plastik Jadi Paving Block

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Menyadari biang keladi dari persoalan sampah sebenarnya adalah sampah plastik yang tidak bisa hancur sendiri, Bupati Banyumas, Achmad Husein, melakukan uji coba sendiri untuk mengolah sampah plastik menjadi paving block.

Beberapa kali paving block tersebut diuji coba dengan dijatuhi batu seberat 4 kilogram dari ketinggian 4 meter, serta coba dihancurkan dengan palu, tetapi masih tetap kuat.

Hanya saja, Husein belum mau memaparkan formulanya, karena masih dalam tahap konsultasi dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Bupati Banyumas, Achmad Husein, di rumah dinasnya, Rabu (26/5/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi

“Selain diuji coba dengan dijatuhi batu, juga sudah dilakukan uji coba dengan dibakar selama 30 menit, dan kondisinya bisa bertahan. Kalau terhadap panas sinar matahari jelas tahan. Jadi, kemungkinan ini bisa menjadi alternatif solusi untuk penanganan atau pengolahan sampah plastik,” jelas Husein, Rabu (26/5/2021).

Lebih lanjut Bupati menyampaikan, sebelumnya Banyumas sebenarnya sudah mengadakan kerja sama dengan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) dari Kabupaten Cilacap, untuk pengolahan sampah plastik menjadi refused derived fuel (RDF). Hanya saja, biaya produksi lebih tinggi daripada harga jual. Dan, secara teknis standar yang diterapkan SBI sangat rumit dalam hal quality control.

Sementara dalam satu hari, di Kota Purwokerto saja menghasilkan sampah plastik sebanyak 380 ton per hari atau 90 truk. Sehingga pengolahan sampah plastik sangat mendesak dilakukan.

“Sumber dari persoalan sampah pada awalnya adalah tercampurnya sampah organik dengan sampah anorganik. Konsisi ini sudah teratasi. Banyumas sudah memiliki 23 mesin untuk memilah sampah organik, sampah plastik organik dan sampah plastik. Untuk sampah organik, sudah ada solusi dengan teknologi probiotik, sampah dengan cepat diolah menjadi kompos. Sehingga sekarang tinggal mencari solusi terbaik untuk penanganan sampah plastik,” jelasnya.

Terkait pengolahan sampah plastik menjadi paving block ini, lanjut Husein, ia sudah banyak berkonsultasi dengan para ahli teknologi, dosen-dosen di Bandung serta koleganya di ITB. Husein juga merupakan alumni ITB.

“Jadi gambaran saya, sampah plastik dicacah menjadi ukuran kecil dan kita sudah punya mesin cacah tersebut di TPST. Kemudian sampah plastik yang sudah dicacah dijual ke TPST seharga Rp1.000 per kilogram. Selanjutnya, akan diolah menjadi paving block yang jika bisa difabrikasi secara massal, harganya mencapai Rp80.000 per meter persegi. Harga tersebut lebih murah dibandingkan harga paving block dari beton,” paparnya.

Selain rencana pengolahan sampah plastik menjadi paving block, selama ini Banyumas juga sudah melakukan pengolahan sampah plastik menjadi bahan campuran aspal.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Banyumas, Irawadi, menjelaskan sampah plastik yang digunakan sebagai campuran aspal harus memenuhi beberapa persyaratan. Antara lain, sudah dipilah, dicacah, dalam kondisi bersih dan kering. Jika tidak sesuai persyaratan, akan berpengaruh terhadap kualitas aspal.

“Untuk kualitas aspal yang dicampur dengan sampah plastik ini sudah dilakukan uji coba oleh Kementerian PUPR, dan hasilnya dari sisi kualitas memang jauh lebih bagus, meskipun secara produksi sedikit lebih mahal biayanya, karena ada tambahan plastik,” pungkasnya.

Lihat juga...