Cara Membuat Kompos dari Bahan Organik, Mudah

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Salah satu aspek dari pertanian organik adalah penggunaan kompos dari bahan organik untuk memberikan sumber unsur hara pada tanah dan tanaman. Dan ternyata, pembuatan kompos ini sama sekali tidak susah dan juga tak membutuhkan waktu lama. 

Peneliti Biologi dan Kesehatan Tanah,  Balai Penelitian Tanah (BALITANAH),  Edi Husein, MSc, menjelaskan bahan organik merupakan sisa tanaman atau tumbuhan yang sudah mati yang dihancurkan oleh mikroba.

“Dengan menggunakan bahan organik sebagai bahan kompos maka tanah maupun tanaman akan mendapatkan unsur hara yang sesuai. Tanah akan menjadi subur dan tanaman akan bisa memberikan hasil yang lebih baik,” kata Edi dalam bimtek online Pustaka Kementerian Pertanian, Senin (31/5/2021).

Peneliti BALITANAH, Edi Husein, MSc, dalam bimtek online Pustaka Kementerian Pertanian, Senin (31/5/2021). -Foto Ranny Supusepa

Selain itu, ia menyebutkan bahan untuk pembuatan kompos bahan organik sangat mudah didapatkan oleh petani. Karena sudah ada semua di sekitar lahan pertanian.

“Bahannya kan rumput dan limbah jerami. Lalu untuk pupuk kandang, juga tak susah mendapatkan. Mungkin yang harus beli adalah dekomposer-nya,” ucapnya.

Fungsi pengkomposan, lanjutnya adalah untuk memastikan bahan organik tersebut sesuai dengan kebutuhan tanaman.

“CN Ratio dari sisa tanaman atau tumbuhan nilainya sangat tinggi, rerata di atas 50 persen. Sementara kebutuhan dari tanaman adalah di bawah 25 persen. Karena itu sisa tanaman atau tumbuhan ini dikomposkan dulu untuk membuat bahan organik sesuai dengan kebutuhan tanaman,” urai Edi.

Ia menjelaskan proses pembuatan kompos dimulai dengan melakukan pencacahan rerumputan agar mempercepat proses pengomposan. Karena mikroba akan lebih mudah memasuki bahan yang berukuran kecil.

“Limbah jerami dan rerumputan, disusun dengan sistem berlapis di lokasi yang sudah ditentukan dengan volume minimal 1 meter kubik. Kenapa harus satu meter kubik, karena untuk memastikan hawa panas yang dibutuhkan sesuai. Kalau tidak ada panas, mikroba akan tidak aktif. Selain itu dibutuhkan tingkat kelembaban antara 40-60 persen,” urainya lagi.

Antara lapisan, biasanya setinggi 20 cm, taburkan air, pupuk kandang dan dekomposer.

‘Terakhir, tumpukan tersebut ditutup dengan terpal untuk menghindari dari sinar Matahari secara langsung dan agar tak terkena air hujan. Biarkan selama 1 minggu,” ujar Edi.

Setelah satu minggu, tumpukan tersebut dibuka dan dibalik-balik dan diberikan air lagi untuk memastikan kelembabannya tidak berkurang. Kemudian tutup kembali dan biarkan selama tiga minggu.

“Setelah tiga minggu ini, CN Ratio sudah turun hingga di bawah 25 persen. Kalau mau langsung dipakai boleh tapi kalau mau ditutup lagi hingga matang sekali, juga boleh,” tuturnya.

Edi menyebutkan kompos yang sudah jadi ini bisa digunakan dengan menanamnya di tanah atau ditaburkan di atas tanah.

“Sebenarnya yang paling baik, kompos dicampurkan dengan tanah saat melakukan pengolahan tanah. Karena mikroba sangat senang sekali. Tapi kalau memang waktunya tidak cukup atau kekurangan tenaga kerja, bisa juga kompos ini ditaburkan di atas tanah,” pungkasnya.

Lihat juga...