Cara Pedagang Bunga Potong di Semarang Pasarkan Produk

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Usaha bunga potong atau buket, menjadi salah satu sektor yang turut terimbas pandemi Covid-19 di Kota Semarang. Namun lewat inovasi, terutama dengan memanfaatkan layanan online, para pedagang masih tetap meraup keuntungan.

Hal tersebut dirasakan Muhammad Faqih, pedagang bunga potong di pasar bunga Kalisari Jalan Dr Soetomo Kota Semarang.

“Ya, pandemi Covid-19 memang berimbas pada penjualan bunga potong atau buket, namun saya memanfaatkan layanan penjualan online. Jadi konsumen bisa langsung memilih jenis bunga yang diinginkan secara online, lalu kita rangkai, kemudian dikirim langsung ke rumah pembeli,” paparnya, saat ditemui di sela berjualan, Selasa (25/5/2021).

Dipaparkan, dengan cara tersebut, permintaan buket masih tetap berjalan dengan baik, meski belum senormal pada saat sebelum pandemi covid-19.

“Pandemi ini kan banyak kegiatan yang ditunda, tidak boleh digelar. Misalnya wisuda, pesta ulang tahun, resepsi pernikahan, atau acara-acara lainnya. Padahal mereka ini konsumen terbesar kita,” lanjutnya.

Pedagang bunga potong, Muhammad Faqih, saat ditemui di sela aktivitasnya berjualan di pasar bunga Kalisari Jalan Dr Soetomo Kota Semarang, Selasa (25/5/2021). -Foto Arixc Ardana

Contohnya proses wisuda perguruan tinggi yang selama ini digelar secara langsung di kampus, namun karena pandemi harus dilakukan secara daring. Para mahasiswa pun mengikuti wisuda dari rumah masing-masing.

“Padahal kalau wisuda seperti itu, yang beli buket bunga banyak. Teman-teman dan keluarga, pasti beli untuk diberikan kepada mereka yang diwisuda. Kalau sekarang sepi, masih ada tapi hanya sedikit,” ungkap pekerja di toko Wonosari Florist, komplek pasar bunga Kalisari Semarang tersebut.

Mengatasi hal tersebut, pihaknya pun menyediakan layanan kirim ke rumah atau alamat tujuan masing-masing. “Jadi misalnya ada yang di wisuda dari rumah di Semarang, buket bunga bisa kita kirim ke rumah yang bersangkutan. Ini inovasi yang kita lakukan sekarang ini, untuk menyiasatinya,” tambah Faqih.

Harga buket bunga pun menyesuaikan dengan permintaan dari konsumen, mulai dari Rp 150 ribu. “Isinya macam-macam, ada bunga mawar, matahari, krisan dan lainnya. Tergantung dari konsumen mau yang apa,” tandasnya.

Ditanya soal berapa jumlah buket yang dijual per minggu, pria 20 tahun tersebut mengaku tidak bisa dipastikan. “Berbeda-beda, kadang ramai, kadang sepi. Paling ramai kalau pas ada momen tertentu. Misalnya hari ibu, valentine atau perayaan lainnya,” ujar Faqih lebih jauh.

Selain dijual dalam bentuk buket atau sekumpulan, pihaknya juga menjual bunga secara eceran. harganya pun bermacam-macam tergantung jenis. Misalnya untuk bunga mawar dijual Rp 7 -10 ribu per tangkai, tergantung warna. Kemudian bunga krisan aneka warna Rp 5 ribu per tangkai, hingga sedap malam Rp 8 ribu per tangkai.

Di satu sisi, pandemi Covid-19 juga tidak menjadi penghalang bagi konsumen untuk datang langsung ke pasar bunga Kalisari, untuk memilih bunga potong yang diinginkan.

“Saya lebih suka datang langsung ke sini, dibanding melihat secara online, ya karena bisa ngecek langsung kondisi bunga yang dibeli. Ini mau saya taruh di rumah, buat hiasan saja, mempercantik ruangan,” terang Fista, salah seorang pembeli.

Diakuinya dirinya cukup rutin membeli bunga potong sebagai hiasan rumah. Terlebih jika akan ada kegiatan atau acara di tempat tinggalnya.

“Misalnya saja ada arisan atau pertemuan keluarga, ya biar rumah semakin menarik perlu dihias. Ya, biar kelihatan lebih cantik, sedap dipandang mata,” ungkapnya.

Ibu dua anak ini, mengaku penggemar bunga mawar, sehingga pilihannya pun tidak jauh dari bunga tersebut. “Apalagi mawar ini kan warnanya juga bermacam-macam, merah, putih, pink, ungu, sampai kuning. Jadi semakin menarik,” pungkasnya.

Lihat juga...