Lebaran CDN

Dampak Siklon Tropis Seroja, Produksi Sorgum di NTT Turun Drastis

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Dampak siklon tropis Seroja yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan menyebabkan curah hujan tinggi serta angin kencang mengakibatkan banyak tanaman pertanian mengalami kerusakan serta gagal panen.

“Banyak tanaman sorgum yang ditanam bulan Desember 2020 mengalami gagal panen,” kata Maria Loretha pembudidaya dan petani sorgum Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT saat dihubungi, Senin (3/5/2021).

Petani sorgum di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT, Maria Loretha saat ditemui di rumahnya, Kamis (8/4/2021). Foto: Ebed de Rosary

Maria sebutkan, dampak bencana mengakibatkan hampir sebagian besar tanaman sorgum di kebun petani di Kabupaten Lembata meliputi Kecamatan Ile Ape, Kedang dan lainnya mengalami penurunan produksi.

Selain itu sebutnya, kebun sorgum di Kabupaten Flores Timur seperti beberapa kecamatan di wilayah Pulau Adonara dan Flores Daratan terkena dampak penurunan produksi sorgum, terkecuali di Pulau Solor.

“Kasihan para petani sebab sekitar 70 persen mengalami gagal panen. Tanaman sorgum banyak yang berwarna hitam dan mengalami kerusakan akibat dampak siklon tropis,” sebutnya.

Maria menyebutkan, sentra produksi sorgum di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo saja hampir semua kebun sorgum milik petani terkena dampak dan hanya 5 petani saja yang tidak terkena dampak.

Ia katakan, 5 petani tersebut mengikuti anjuran yang disampaikannya agar jangan menanam sorgum terlebih dahulu saat hujan di bulan Desember 2020, meskipun sudah memasuki musim tanam karena ada imbauan mengenai siklon tropis dari BMKG.

“Saya bersama 4 petani lainnya di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo yang menanam di bulan Februari tidak terkena dampak. Sementara yang menanam sorgum di bulan Desember semuanya mengalami penurunan produksi,” tuturnya.

Maria menjelaskan, dampak siklon tropis mengakibatkan bulir sorgum berwarna kehitaman dan banyak yang rusak akibat tingginya curah hujan.

Selain itu tambah dia, hampir semua kebun sorgum di Lembata dan Pulau Adonara mengalami kerusakan akibat banjir bandang dan terendam lumpur akibat tingginya curah hujan.

“Petani sorgum untuk musim tanam 2020/2021 banyak mengalami penurunan produksi saat panen pertama di bulan April 2021 ini,” ujarnya.

Maria tambahkan, tanaman sorgum berbeda dengan jagung dan padi dimana pohonnya dipangkas lagi 30 sentimeter dan dia akan tumbuh tunas serta berbuah lagi.

“Saya sudah sarankan ke petani dan rata-rata petani sudah paham serta melakukan pemangkasan. Kita harapkan panen kedua nanti hasilnya bisa lebih baik,” harapnya.

Sementara itu, Bony Kolah, petani sorgum di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, mengakui, menurunnya produksi sorgum akibat badai siklon tropis yang menyebabkan sebagian besar tanaman sorgum mengalami penurunan produksi.

Bony menyebutkan, semua petani anggota koperasi petani sorgum di Dusun Likotuden terkena dampak karena semuanya menanam di bulan Desember, seperti kebiasaan setiap tahun saat memasuki musim tanam.

“Musim tanam tahun 2019 dan 2020 produksi sorgum kami melimpah, namun tahun ini banyak yang harus kecewa karena mengalami gagal panen,” ucapnya.

Lihat juga...