FKIP Unej Gelar Kuliah Umum ‘Pancasila Hilang, Indonesia Modar’

Editor: Koko Triarko

Prof. Bambang Soepeno, dalam acara kuliah umum via daring d Tegal Boto, Sumbersari, Jember, Kamis (20/5/2021). -Foto: Iwan Feriyanto

JEMBER – Isu penghapusan muatan materi Pancasila mendapat respons dari Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Universitas Jember, saat acara kuliah umum yang diselenggarakan daring dengan tema ‘Pancasila Hilang, Indonesia Modar’.

Dekan Fakultas IKIP, Prof. Bambang Soepeno, mengatakan hilangnya mata pelajaran Pancasila akan memiliki dampak yang siginifikan. Sebagaimana siswa maupun mahasiswa memiliki peranan penting dalam memahami Pancasila secara utuh. Karena pemuda nantinya akan memegang tonggak estafet kepemimpinan di Indonesia.

“Pancasila merupakan dasar negara, pondasi bangsa, guidance sekaligus pemersatu bangsa. Jika pemudanya tidak paham tentang Pancasila, bagaimana nasib indonesia ke depan? Lantas Indonesia akan dibawa ke mana nantinya?” ujar Prof. Bambang Soepeno dalam acara meeting zoom, di Tegal Boto, Sumbersari, Jember, Kamis (20/5/2021).

Bambang menambahkan, Pancasila merupakan cikal bakal corak bangsa Indonesia, yang nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap baitnya mengandung makna universal.

“Dasar Pancasila memiliki peranan bagaimana rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia terdiri dari beragam suku, agama. Maka, tanpa Pancasila, Indonesia modar (mati),” ucapnya.

Pentingnya pendidikan Pancasila mendapat perhatian serius dari Dekan Fakultas IKIP UNEJ Jember. Bambang kerap memperingatkan guru dan pengajar untuk membenahi proses pengajaran tentang pendidikan Pancasila terhadap anak didiknya.

“Selama ini, pembelajaran pendidikan Pancasila masih diterapkan secara tekstual sekali. Seharusnya pembelajara Pancasila yang diberikan kepada anak didiknya perlu mendapatkan pengembangan yang lebih serius, dalam rangka membumikan prinsip nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Salah satu cara mendidik para pelajar tentang materi Pancasila, Bambang mengatakan anak didik diajak berpikir dan menganalisa bagaimana Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Paling mudahnya menerapkan nilai Pancasila, mengajak anak didik menerapkan langsung kepada masyarakat tentang hakikat dasar makna Pancasila,” tegasnya.

Bambang menambahkan, proses pengajaran harus mampu untuk dapat diterapkan langsung oleh anak didiknya.

Linda Dwi Eriyanti, narasumber ke dua, mengatakan bahwa dirinya setuju dengan pernyataan Prof. Bambang Soepeno. Pancasila merupakan cikal-bakal perjanjian luhur para pendiri bangsa dulu. Karena itu, siapa pun penerus bangsa selanjutnya, wajib mempertahankan Pancasila.

“Pancasila wajib diajarkan dan tidak bisa ditawarkan lagi. Pancasila merupakan kristalisasi norma dan nilai semua budaya di Nusantara yang sudah terbukti mampu mempersatukan Indonesia,” ucapnya.

Linda menyebutkan, pendidikan Pancasila dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi menjadi cara membangun disiplin diri bersama, agar kita paham dan terus mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Unej, Prof. Bambang Soedjarnoko, mengakui topik pembahasan terkait ‘Pancasila Hilang, Indonesia Modar’ memang terkesan sangar. Namun memilih tema tersebut memiliki tujuan, bahwa dalam rangka menggugah kesadaran dari segala kalangan pihak, betapa pentingnya pendidikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Prinsip hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak lepas dari kandungan nilai-nilai Pancasila. Pancasila bukan sekadar semboyan negara, namun prinsip dasar dalam cikal-bakal kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara di Indonesia,” ucapnya.

Lihat juga...