Harga Getah Karet di Way Kanan Alami Turun di Masa Penyelang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Masa panen penyelang yang berlangsung Desa Negara Ratu, Kecamatan Pakuan Ratu, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung berimbas pada harga getah karet menurun. Sebelumnya harga lateks atau getah karet mencapai Rp10.000 hingga Rp11.000. Harga anjlok menjadi Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram.

Kasmin, petani karet di wilayah setempat menyebut harga anjlok sejak awal tahun. Penurunan harga berbarengan dengan masa gugur daun atau trek akibat penyakit gugur daun Pestalotiopsis sp yang berimbas pada turunnya produksi secara signifikan.

Rendahnya harga membuat kasmin memilih menyimpan getah karet miliknya meski proses penyadapan tetap dilakukan setiap pagi. Getah dikumpulkan pada wadah khusus untuk disimpan dengan proses perendaman dan akan dijual kala harga tinggi.

“Petani harus rutin memantau harga getah karet karena harga terpengaruh oleh permintaan nasional dan dunia,” terang Kasmin saat ditemui Cendana News, Senin (17/5/2021).

Faktor yang mempengaruhi produksi getah karet berasal dari intensitas hujan yang tinggi pada pagi hari. Normalnya setiap pohon bisa mendapat hasil sekitar 1 ton per hektare, namun imbas panen penyelang hasil hanya mencapai 500 kilogram.

Sebagai penghasilan tambahan untuk menyiasati anjloknya harga getah karet, petani memilih menanam singkong dan sayuran. Sejumlah petani karet sebut Kasmin juga memanfaatkan lahan perkebunan karet untuk tempat penggembalaan sapi. Sebelum lebaran Idu Fitri ia menyebut bisa menjual dua ekor sapi seharga Rp18juta perekor. Hasil penjualan sapi bisa dipergunakan untuk kebutuhan hari raya.

“Hasil panen getah karet bisa dipergunakan sebagai tabungan karena bisa dijual saat harga mencapai Rp10.000 perkilogram,” bebernya.

Getah karet milik Kasmin seluas lima hektare di Desa Negara Ratu, Kecamatan Pakuan Ratu, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung, Senin (17/5/2021). Foto: Henk Widi

Anjloknya harga getah karet berimbas sebagian petani memilih melakukan peremajaan, seperti yang dilakukan oleh Sumanto, pemilik sekitar enam hektare lahan karet. Satu hektare di antaranya sengaja ditebang untuk proses penanaman bibit baru. Ia memilih tanaman karet varietas kaki tiga yang merupakan hasil sambung pucuk.

“Tanaman karet yang diremajakan masih bisa dijual bagian kayu untuk bahan bakar pada perusahaan pengolahan tapioka,” cetusnya.

Proses peremajaan tanaman karet sebut Sumanto dilakukan untuk menghasilkan tanaman dengan getah yang banyak. Agar tetap bisa melakukan penyadapan getah karet ia memilih meremajakan tanaman secara bertahap. Peremajaan bertahap dilakukan agar bisa tetap menyadap tanaman karet usia 6 hingga 10 tahun. Peremajaan tanaman karet mutlak dilakukan untuk tetap bisa mendapatkan produktifitas getah pada tanaman berikutnya.

Lihat juga...