Herbal Jaga Kesehatan Ikan Budi Daya Tanpa Residu

Editor: Koko Triarko

BOGOR – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), telah melakukan penelitian, dan menyatakan, bahwa  tanaman herbal dapat digunakan untuk menjaga kesehatan ikan.

Salah satu bahan alami yang cukup menjanjikan sebagai bahan pengendali penyakit ikan adalah bahan alami yang berasal dari tanaman obat (bahan herbal). Bahan ini mempunyai kandungan zat aktif yang mampu berfungsi setara dengan zat antibiotik yang saat ini penggunaanya sangat dibatasi.

Dengan memanfaatkan kandungan zat aktif alami (antibiotik alami) pada bahan herbal, diharapkan mampu untuk menggantikan fungsi antibiotik sintetis. Namun, tidak meninggalkan residu yang berimplikasi pada penurunan keberlanjutan kegiatan budi daya ikan secara umum.

Kepala BRSDM, Sjarief Widjaja, Senin (24/5/2021). –Foto: M Amin

Kepala BRSDM, Sjarief Widjaja, menyampaikan upaya riset yang telah dilakukan pihaknya tersebut, salah satunya dilakukan dalam rangka mendukung peningkatan perikanan budi daya. Selain itu, upaya tersebut juga dalam rangka mendukung program terobosan KKP untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, serta menjaga keberlangsungan sumber daya laut dan perikanan darat.

Peneliti BRPBATPP, Nunak Nafiqoh, menyampaikan, terdapat beberapa alternatif teknik pengelolaan kesehatan ikan dalam mendukung budi daya ikan. Pencegahan atau imunoprofilaksis dengan meningkatkan kekebalan tubuh melalui vaksin dan imunostimulan, yaitu vitamin, mineral, dan asam amino.

“Pencegahan melalui probiotik, yaitu bakteri hidup yang menguntungkan yang diaplikasikan ke media budi daya atau dicampur pakan. Jika ikan sudah sakit, maka dapat diterapi dengan obat kimia dan obat herbal,” jelas Nunak Nafiqoh, Senin (24/5/2021).

Menurutnya, obat herbal memiliki keunggulan aman digunakan karena tidak menimbulkan residu dan resistensi bakteri. Beberapa tanaman yang dapat dijadikan obat herbal untuk ikan, antara lain kunyit (C. domestica), ketapang (T. catappa), kipahit (T. diversifolia), babandotan (A. conyziodes), kirinyuh (E. inulaefolium), meniran (P. niruni), temulawak (C. xanthorzia), talas (C. esculenta), sirih (P. betle), kunyit putih (C. zeodaria), kimanila (C. alata), jawer kotok (P. scutellaroides), kecombrang (E. elatior), jambu monyet (A. occidentale), cebreng (G. sepium), petai (P. speciose), bawang putih (A. sativum), dan petai cina (L. leucocephola).

Ia melanjutkan, penyiapan obat herbal mulai dari tanaman diambil bagian yang akan digunakan, dikeringkan, dan digiling sampai menjadi serbuk. Ekstraksi bahan aktif herbal diawali dari 10 gr bahan herbal dalam 100 ml pelarut, lalu dilakukan inkubasi 48 jam dalam agitasi konstan, kemudian disaring, dan dikeringkan pada suhu ruang/rotavap.

“Langkah-langkah aplikasi herbal terdiri dari uji sensitivitas, uji minimum inhibitory concentration, uji lethal concentration 50, dan uji in vivo,” tambah Nunak.

Salah satu produk hasil riset yang telah dilakukan BRPBATPP adalah Medis Herb MH-1 Obat Ikan. Komposisinya terdiri dari kipait, sirih, pepaya, kunyit, mengkudu, dan jambu biji. Aturan pakai 2-3 hari sekali dengan merendam satu kemasan dalam 300 liter air untuk benih dan dalam 200 liter air untuk pembesaran.

“Indikasinya meredakan gejala infeksi seperti tukak pada kulit serta pendarahan pada sirip dan insang. Cara kerja obat bekerja sebagai disinfektan dan antiseptik,” kata Nunak.

Lihat juga...