INDEF: Vaksin Gotong Royong Sulit Terjangkau Pelaku UMKM

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Vaksin gotong royong telah dilaksanakan pada 17 Mei 2021, harga per dosisnya Rp 500.000 dan perusahaan yang harus menanggungnya. Namun bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) harga vaksin ini sangat sulit terjangkau.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut, harga vaksin gotong royong yang ditetapkan pemerintah Rp 375.000 per dosis dan penyuntikan Rp 125.000, sehingga totalnya Rp 500.000, akan menimbulkan celah kepentingan.

“Harga vaksin gotong royong Rp 500.000 terlampau mahal dibandingkan vaksin Sinovac untuk program vaksinasi gratis itu harganya Rp 245 ribu,” ujar Bhima, kepada Cendana News saat dihubungi, Jumat (28/5/2021).

Menurutnya, mahalnya vaksin tersebut akan menimbulkan ketimpangan antara perusahaan yang memiliki kemampuan keuangan yang cukup dan usaha kecil yang finansialnya rendah.

“Sektor usaha dengan keuangan rendah, akan sulit menjangkau akses vaksin bagi para karyawannya. Umumnya, sektor ini termasuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang paling terdampak pandemi Covid-19,” imbuhnya.

Selain itu, kata dia, ketimpangan pelaksanaan vaksinasi ini juga terjadi di industri padat karya. Karena dengan jumlah karyawan yang besar, pengusaha tersebut, harus menyediakan anggaran vaksin untuk karyawannya.

Jangan sampai menurutnya, di kemudian terjadi pemotongan gaji karyawan untuk vaksinasi oleh perusahaan. “Per dosis vaksin gotong royong ini mahal, kalau dua kali vaksin saja Rp 1 juta. Apa iya di gratiskan?,” tukasnya.

Tentunya kata dia, diperlukan pengawasan dari pemerintah terhadap kemungkinan munculnya kebijakan potong gaji karyawan di industri tersebut.

Adapun ketimpangan lainnya sebut dia, yakni terkait akses vaksin perusahaan yang diduga akan cenderung memprioritaskan para petinggi perusahaan. Seperti manajemen, direksi, dan golongan karyawan senior.

Sedangkan pekerja di level bawah belum tentu memperoleh jatah dalam waktu yang relatif cepat. Sehingga dia menilai, jika dalam satu perusahaan tidak divaksin semua karyawannya karena terkendala mahalnya vaksin.

“Ini juga percuma. Tapi kalau semua karyawannya di vaksin gotong royong, itu juga menjadi beban keuangan perusahaan,” imbuhnya.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Ikhsan Ingratubun mengatakan, harga vaksin gotong royong sangat sulit terjangkau oleh pelaku usaha di sektor UMKM.

Maka itu, dia meminta pemerintah membedakan harga vaksin untuk perusahaan padat karya dan UMKM dalam pelaksanaan program vaksinasi nasional ini.

“Saat ini kondisi UMKM saat ini masih terpuruk. Pengusaha harus merogoh uang hingga Rp 1 juta untuk satu karyawan yang divaksin dengan dua gelombang. Ini sangat berat,” ujar Ikhsan, saat dihubungi.

Dia mengimbau pemerintah atau produsen sebaiknya jangan mengambil untuk sebesar nilai yang ditetapkan dalam KMK tentang panduan pencegahan pengendalian Covid-19 di perkantoran dan industri.

Sehingga menurutnya, harga vaksin yang dipatok dapat dipertimbangkan untuk disesuaikan dengan kondisi pelaku UMKM.

Lihat juga...