Lebaran CDN

Informasi Iklim Penting Diketahui Petani Sebelum Menanam

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Menurunnya produksi pertanian dan gagal panen di beberapa wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat siklon tropis harusnya menjadi pelajaran buat petani dalam menanam tanaman pertaniannya.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka, NTT, Carolus Winfridus Keupung saat ditemui di kantornya di Kelurahan Beru, Kota Maumere, Sabtu (1/5/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Petani harusnya juga mengikuti informasi cuaca dan iklim yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG),” pesan Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka, NTT, Carolus Winfridus Keupung, saat dihubungi, Senin (3/5/2021).

Win sapaannya menyebutkan, informasi mengenai akan adanya badai siklon tropis yang melanda wilayah NTT sudah disampaikan oleh BMKG di Desember 2020 dan harusnya ini dipahami petani.

Dirinya menyesalkan, banyak petani di NTT yang tidak mengetahui mengenai ramalan kondisi cuaca dan iklim ini karena informasi tersebut tidak diperoleh dari pemerintah daerah.

“Harusnya pemerintah daerah menyampaikan hal ini termasuk juga Dinas Pertanian harus menyampaikan informasi ini kepada para petani di daerahnya masing-masing,” ungkapnya.

Win menyebutkan, akibat tidak adanya informasi ini membuat para petani menanam tanaman pertanian seperti jagung, sorgum dan padi ladang serta tanaman hortikultura.

Dia katakan, banyak areal pertanian terdampak akibat adanya banjir dan angin kencang seperti di Kabupaten Sikka dimana puluhan hektare tanaman padi terkena dampak banjir.

“Banyak juga tanaman hortikultura yang terkena dampak dan mengalami kerusakan karena tergenang. Kelebihan air juga bisa membuat beberapa jenis tanaman akan mengalami kerusakan,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan petani hortikultura di Kabupaten Sikka, Yance Maring yang mengakui satu kebun tomat miliknya yang ditanam di Desember 2020 dan panen di bulan April mengalami penurunan produksi.

Yance katakan, daun tomat mengering dan buah tomat mengecil serta terkena serangan hama akibat curah hujan tinggi karena rata-rata petani hortikultura menggunakan plastik mulsa untuk melapisi bedeng.

“Kalau curah hujan tinggi maka beberapa tanaman rentan mengalami gagal panen dan air juga menggenangi saluran yang ada diantara bedeng-bedeng tanaman yang ada,” ungkapnya.

Lihat juga...