Ini Harapan Pedagang Karangan Bunga Kota Semarang di Tengah Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Pandemi covid-19 menghantam di segala sektor, tidak hanya kesehatan, namun juga sektor ekonomi. Kondisi tersebut, turut berpengaruh kepada usaha karangan bunga. Setidaknya, hal tersebut terlihat di kawasan Pasar Kembang Kalisari, Jalan Soetomo, Kota Semarang.

“Ya, bisa dibilang kena imbas pandemi covid-19 juga, sebab banyak kegiatan yang selama ini menjadi ladang usaha kita, gara-gara pandemi, tidak diperbolehkan digelar. Misalnya saja, pesta pernikahan, biasanya banyak orderan ucapan pernikahan, jadi turun drastis selama pandemi,” papar penjual karangan bunga, Sri Ningsih saat ditemui di sela berjualan, Selasa (25/5/2021).

Demikian juga kegiatan lain, yang selama ini selalu membutuhkan karangan bunga, misalnya pembukaan toko atau tempat usaha, wisuda, perayaan HUT perusahaan, hingga pelantikan pejabat baru, banyak yang dikurangi pelaksanaannya.

“Jika biasanya ramai, sekarang jadi sepi, karena dilarang berkerumun. Semua dilakukan secara virtual, jadi kita juga sebagai pedagang karangan bunga juga berkurang omzetnya. Bisa dibilang turun hingga 60-70 persen dari sebelum pandemi,” terangnya.

Namun di satu sisi, selama pandemi juga ada peningkatan terkait karangan bunga ucapan duka cita. Meski hal tersebut, bukan berarti dirinya mendoakan agar orang banyak yang meninggal selama pandemi ini.

“Ya paling banyak sekarang pesanan karangan bunga untuk ucapan duka cita. Banyak yang tidak bisa hadir langsung ke pemakaman, jadi mereka mengirimkan karangan bunga,” lanjutnya.

Ningsih menuturkan, saat ini di tengah pandemi, permintaan karangan bunga anjlok menjadi 10 – 15 pesanan per minggu. Sebelumnya, angka tersebut bisa berlipat dua kalinya.

“Kalau harga mulai dari Rp300 ribu – Rp500 ribu, tergantung besar kecilnya ukuran karangan bunga, jumlah huruf, warna dan lainnya,” tandasnya.

Hasil penjualan tersebut merupakan omzet kotor, nantinya masih dipotong modal pembelian bahan baku, upah pekerja dan transportasi pengiriman.

“Ya keuntungannya, sekitar separuh dari omzet kotor. Namun tidak mesti di angka tersebut, kadang seminggu hanya 5 pesanan. Tidak menentu, namun kita tetap akan berusaha bertahan di tengah pandemi ini, ya karena cuma ini keahlian saya,” tandasnya.

Dirinya pun berharap usaha karangan bunga yang sudah ditekuninya selama bertahun-tahun tersebut, kembali menggeliat.

Setidaknya dirinya bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga, membayar para pekerja hingga sewa lapak usaha.

Hal senada juga disampaikan, Rahmat, salah seorang pekerja usaha karangan bunga lainnya di pasar bunga Kalisari Semarang.

“Di masa pandemi ini sangat berpengaruh, khususnya waktu awal-awal pandemi misalnya karangan bunga untuk pernikahan atau ulang tahun banyak berkurang,” paparnya.

Namun saat ini, dirinya mengaku sudah ada peningkatan pesanan, seiring dengan kelonggaran kebijakan terkait perizinan kegiatan.

“Sekarang ini sudah diperbolehkan melangsungkan resepsi pernikahan lagi, jadi permintaan karangan bunga juga ikut terdongkrak. Pembukaan toko atau usaha juga sudah banyak dilakukan, pesta perkawinan atau ulang tahun juga sudah diperbolehkan,” terangnya.

Termasuk juga pelantikan pejabat secara langsung juga sudah dilakukan. Hal tersebut ternyata berdampak langsung pada permintaan karangan bunga.

“Contohnya pada pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang pada akhir Februari 2021 lalu, saya sampai kehabisan stok bahan baku. Pesanannya sampai ratusan karangan bunga, sampai banyak yang ditolak karena tenaga terbatas dan bahan baku habis semua,” ucapnya.

Kini seiring dengan kelonggaran kebijakan pembatasan kegiatan, dirinya pun berharap usaha karangan bunga kembali ramai.

“Ya harapannya kita, pembatasan kegiatan masyarakat jangan terlalu ketat lagi, biar usaha juga tetap bisa bertahan,” pungkasnya.

Lihat juga...