Inilah Pengalaman Pemudik Siasati Pandemi Corona

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kebijakan pelarangan mudik dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 tidak sepenuhnya efektif. Berbagai cara dilakukan warga yang rindu kampung halaman, bertemu keluarga setahun sekali kala Idulfitri. Penyekatan oleh satgas Covid-19 di sejumlah titik tidak jadi halangan. Beberapa warga tak putus asa menyiasati larangan mudik.

Sutikno, salah satu pemudik (bukan nama sebenarnya) mengaku ia telah berpikir keras untuk pulang kampung. Warga yang merantau selama dua tahun di wilayah Jawa Barat itu bekerja sebagai karyawan untuk mencari nafkah.

Pemudik asal Jawa Barat yang akan menuju Lampung, Sutikno memilih menumpang truk pengangkut sapi hingga tiba di Lampung, Rabu (12/5/2021) – Foto: Henk Widi

Pulang sebelum penyekatan, pelarangan mudik berisiko ia tidak menerima tunjangan hari raya (THR). Ia bisa pulang dua hari sebelum lebaran Idulfitri.

Rencana matang dipersiapkan, ia telah memiliki surat bebas Covid-19. Memakai bus, travel yang tidak beroperasi, hal mustahil baginya.

Beruntung ia memiliki rekan yang berprofesi sebagai pengemudi truk angkutan ternak sapi. Rute Jawa Barat ke Lampung dilintasi pengemudi truk pengangkut sapi. Ia memilih hanya memakai baju lusuh, persis seperti kernet.

“Saya memilih memaketkan pakaian dan keperluan lain via jasa ekspedisi ke kampung halaman, surat bebas Covid-19 sudah di tangan namun karena angkutan umum tidak beroperasi, saya menumpang truk sapi untuk tiba di Lampung,” terang Sutikno saat ditemui Cendana News, Rabu (12/5/2021).

Sutikno menyebut ia tetap mendukung kebijakan pemerintah dalam melarang mudik. Namun melihat kondisi mal, pasar hingga pusat perbelanjaan modern terlihat membludak, ia rindu akan kampung halaman.

Ia tetap membayar kepada sopir untuk tiba di kampung halaman. Cara itu tetap dilakukan daripada ia tidak bisa berlebaran bersama keluarga.

Selain Sutikno, warga Kabupaten Pesawaran asal Banten, Jawa Barat memilih mudik sebelum pelarangan.

Hermansah, warga Gading Rejo, Pesawaran menyebut tahun ini merupakan tahun kedua baginya tidak berlebaran di kampung jika mengikuti larangan mudik. Pasalnya saat lebaran 2020 ia juga terkendala aturan mudik, sementara ia telah memutuskan resign dari pekerjaan.

“Saya bersama lima rekan memilih menyewa travel dan pulang sebelum aturan penyekatan mudik,” bebernya.

Aturan larangan mudik sebut Hermansah diberlakukan sejak Kamis (6/5/2021) hingga Minggu (16/5/2021) mendatang.

Ia tidak habis akal, perjalanan dilakukan olehnya sejak Selasa (4/5/2021) dari Jawa Barat. Belum adanya pengetatan perjalanan membuat ia bisa tiba di Pesawaran pada Rabu (5/5/2021) meski tetap harus memilih akses jalan tikus. Sebutan jalan tikus merupakan akses yang tidak berpotensi dijaga satgas Covid-19.

Hermansah bilang tetap mematuhi protokol kesehatan. Sesampainya di rumah ia tidak langsung bertemu keluarga.

Beruntung keluarga memiliki dua rumah yang besar sehingga ia bisa melalukan isolasi mandiri. Perlengkapan mandi, makanan telah disiapkan. Meski telah melakukan rapid test dan negatif Covid-19, perjalanan lintas pulau jadi antisipasi untuk isolasi mandiri.

“Buat jaga jaga, untuk keluarga saya selalu menerapkan protokol kesehatan dan saya bisa lebaran bersama keluarga,” bebernya.

Imbas larangan mudik diberlakukan, pelabuhan penyeberangan Bakauheni-Merak terlihat lengang. Hal yang sama terlihat pada akses Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang lengang.

Namun sejumlah kendaraan ekspedisi barang logistik, BBM, benda pos dan keperluan khusus tetap melintas. Petugas gabungan penyekatan atau Satgas Covid-19 siaga di perbatasan Lampung-Sumatera Selatan dan Bakauheni sebagai pintu gerbang Sumatera.

Sesuai addendum Surat Edaran Satgas Covid-19 Nomor 13 tahun 2021 tentang Peniadaan Covid-19 syarat ketat diberlakukan. Sejumlah pelaku perjalanan yang memiliki keperluan dinas, keluarga sakit, meninggal dan melahirkan diperbolehkan menyeberang.

Hendra Saputra, salah satu warga yang istrinya melahirkan mengaku tak berniat mudik. Namun ia harus pulang ke Banten menunggu sang istri.

“Saya bekerja di Lampung pada perusahaan kontraktor, mudik dilarang namun istri diprediksi melahirkan dua hari setelah lebaran,” bebernya.

Mengeluarkan biaya tes Rapid Test Antigen sebesar Rp150.000, menyewa kendaraan pribadi membuat ia bisa pulang kampung. Selain surat bebas Covid-19 ia harus meminta surat pengantar dari perusahaan, surat bukti dari rumah sakit bersalin.

Sesampainya di pelabuhan semua surat diverifikasi dan diberi cap oleh petugas check point. Asa untuk bertemu keluarga dilakukan dengan perjuangan dan biaya yang tak sedikit.

Lihat juga...