Jadikan Kebun dan Pemukiman, Warga Sikka Rambah Hutan Lindung

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Puluhan Kepala Keluarga (KK) di Desa Kloangpopot dan Wolomotong, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan perambahan hutan di Pal Batas 32 dan 84, hutan lindung Egon Ilimedo untuk dijadikan lahan pertanian dan pemukiman.

“Benar ada perambahan hutan di wilayah tersebut untuk dijadikan kebun dan areal pemukiman,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, NTT, Benediktus Herry Siswadi saat dihubungi Cendana News, Rabu (12/5/2021).

Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, NTT, Benediktus Herry Siswadi saat ditemui di Kelurahan Kota Uneng, Kota Maumere, Sabtu (8/5/2021). Foto: Ebed de Rosary

Herry sapaannya menyebutkan, pihaknya telah berulangkali melakukan pembinaan kepada masyarakat bahkan di tahun 2019 ada yang diproses hukum dan telah dijatuhi hukuman selama 1,5 tahun.

Ia mengatakan, selain melakukan pembinaan, pihaknya pun melakukan rehabilitasi bersama warga di kawasan hutan yang telah dirambah tersebut dengan melakukan penanaman pohon sesuai dengan persentase tanaman yang dirusak.

“Apabila persentase tumbuh tanaman yang dirambah masyarakat di bawah ketentuan, maka masyarakat yang melakukan perambahan hutan akan diproses hukum,” ujarnya.

Herry menambahkan, penanaman jenis pohon pun akan dikombinasikan antara tanaman ekologis dan tanaman perkebunan di areal yang telah dirambah masyarakat tersebut.

Ia mengaku, pihaknya kesulitan untuk mengawasi dan memproses hukum karena jumlah warga yang melakukan perambahan hutan sangat banyak termasuk menempati kawasan hutan.

“Di Desa Wolomotong saja lebih dari 50 Kepala Keluarga (KK) yang membangun rumah di dalam kawasan hutan lindung. Ini yang membuat kami kesulitan untuk melakukan proses hukum,” ungkapnya.

Sementara itu, mantan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi NTT, Carolus Winfridus Keupung, menyesalkan adanya warga yang merambah kawasan hutan lindung.

Win sapaannya menyebutkan, di wilayah Kecamatan Doreng terutama di dua desa yang dilakukan perambahan, wilayah hutannya berada di areal kemiringan sehingga rentan terjadi banjir apabila hutan di kawasan tersebut gundul.

“Kalau hutan gundul maka rentan sekali terjadi banjir karena tidak adanya pepohonan sebagai penahan air. Debit mata air di kawasan hutan pun akan berkurang akibat adanya aksi penggundulan hutan ini,” ucapnya.

Win mengharapkan agar semua pemangku kepentingan baik pemerintah desa, kecamatan, UPT KPH Sikka, pemerintah kabupaten dan provinsi serta tokoh adat, agama dan masyarakat bekerjasama memberikan penyadaran kepada warga.

Lihat juga...