Kabupaten Bandung Siap Gelar PTM

Editor: Koko Triarko

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Juhana, usai menghadiri wisuda perdana STAI Yamisa di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (24/2/2020). –Dok: CDN

BANDUNG – Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Pendidikan, mengaku telah siap melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka yang diagendakan mulai berlangsung pada Juli mendatang.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Juhana, mengungkapkan, sejauh ini semua sekolah di wilayahnya telah menyediakan berbagai sarana prasarana yang menunjang diterapkannya protokol kesehatan.

“Selain itu, 70 persen guru di Kabupaten Bandung sudah menjalani vaksinasi Covid 19. Saat ini, kami tinggal menunggu kebijakan dari pemerintah pusat saja,” kata Juhana, saat dihubungi Cendana News, Kamis (20/5/2021).

Lebih lanjut, Juhana menyatakan terkait mekanisme saat pembelajaran tatap muka, akan dilakukan dengan pola yang terbatas. Misalnya, hari belajar, jam belajar dan jumlah siswa dibatasi. Kemudian juga diberlakukan sistem shift atau pembagian waktu di sekolah.

“Tahap satu, mungkin seminggu cuma satu atau dua hari, siswanya cuman sepuluh orang per kelas, jumlah jam belajarnya diawali selama 20 menit. Jika tahap satu lolos, masuk ke tahap dua, progresif, ada peningkatan jumlah hari, siswa, dan jam belajarnya,” ungkap Juhana.

Juhana menjelaskan, perkembangan dalam kegiatan belajar tatap muka harus terus dipantau. Bila dalam pelaksanaan muncul gejala-gejala penularan Covid 19, maka harus dihentikan untuk sementara waktu.

“Jadi bertahap, terbatas dan dinamis, serta yang paling penting adalah harus ada izin gugus tugas Covid 19 dan izin orang tua,” imbuhnya.

Sementara itu, Adin Miharja (41), wali murid di Kecamatan Ciparay, mengaku sangat senang mendengar PTM di Kabupaten Bandung akan segera kembali dimulai. Pasalnya, ia melihat saat ini minat belajar anak menurun drastis, akibat terlalu lama tidak bersekolah.

“Anak saya itu susah sekali disuruh belajar sekarang. Kerjaannya main aja terus. Kita orang tua udah kewalahan mengingatkan. Anak jadi makin malas begini. Jadi, kalau sekolah udah akan buka alhamdulillah senang sekali,” kata Adin.

Hal senada juga diutarakan Eneng. Menurut Ibu dua anak tersebut, proses belajar online sangat tidak efektif dan merugikan orang tua. Pasalnya, biaya sekolah masih full, tapi materi pembelajaran yang diberikan peserta didik tidak maksimal.

“Terus aja kita orang tua mah bayar-bayar, tapi belajarnya online. Itu belajar online sangat tidak efektif. Kadang saya lihat anak saya malah tidur, kadang main game. Jadi ini betul-betul harus disudahi, segera buka lagi sekolah,” pungkas Wiwin.

Lihat juga...