Kasus HIV/AIDS di Jember Meningkat

Editor: Koko Triarko

Dokter Wiwik Supartiwi, saat ditemui Patrang, Jember, Jumat (21/5/2021).-Foto: Iwan Feriyanto

JEMBER – Selama 2021 hingga memasuki bulan ke empat, tingkat klaster seseorang terjangkit virus HIV/AID bertambah 200 orang. Hal tersebut disebabkan salah satunya dari warga yang mudik pulang kampung.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Jember, dr. Wiwik Supartiwi, mengatakan bagi sebagian orang yang bekerja di perantauan, setelah pulang kampung tidak menyebutkan pekerjaannya apa. Namun setelah beberapa waktu, virus yang sudah menggerogoti kekebalan tubuhnya sudah memunculkan tanda-tanda, baru bisa diketahui.

“Mereka yang merantau tidak mengatakan pekerjaannya apa, setelah beberapa saat berada dikampung halamannya dan sudah mulai muncul tanda-tandanya dengan indikasi terjangkit virus HIV/AID. Sedangkan orang yang bersangkutan seringkali melakukan sosialisasi di tempat kediamannya, tidak menutup kemungkinan menularkan ke sebagian orang yang kekebalan tubuhnya sudah mulai rentan,” ujar dr. Wiwik Supartiwi, di Patrang, Jember, Jumat (21/5/2021).

Jika dulu klaster persebaran virus HIV/AID berada pada kelompok LBGT, Lelaki Suka Lelaki (LSL), pekerja seks komersial, dan waria, namun saat ini sudah masuk ke dalam masyarakat umum, misalnya ibu hamil yang tertular oleh ayahnya.

“Tentu kami kesulitan dalam melakukan deteksi sedini mungkin. Secara sadar, bagi mereka yang terpapar virus HIV/AID akan lebih condong untuk menutup diri dan tidak mau untuk menceritakan,” katanya.

Wiwik menambahkan, pihaknya membutuhkan kerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat yang memiliki kegiatan fokus pada pendekatan kelompok yang terjangkit virus HIV/AID. Sehingga nantinya mudah untuk melakukan perawatan, mulai dari pendampingan konseling serta pengobatan.

“Selama masa pandemi tidak ada pembatasan pengobatan bagi mereka yang memiliki indikasi terjangkit virus HIV/AID. Delapan puskesmas di Jember yang telah menyediakan fasilitas pengobatan antiretroviral (ARV), serta empat rumah sakit yang dijadikan sebagai tempat rujukan pengobatan HIV/AID. Pengobatan dilakukan agar tidak memberi efek menular keorang lain,” ujarnya.

Hingga saat ini, akumulasi data kasus HIV/AID di Jember hingga bulan april 2021 sebanyak 6.200 kasus.

Anisa, mahasiswi Kesehatan Universitas Jember, mengatakan secara dasar memahami virus HIV/AID merupakan penyakit yang berdampak jangka panjang. Untuk menghindari klaster makin meluas, diperlukan rekayasa, di mana kelompok rentan atau pelaku terfokus pada satu tempat sektoral, sehingga dapat dilakukan upaya preventif.

“Paling mudah untuk mencegah persebaran virus ini dengan melakukan upaya sektor pusat kelompok rentan atau pelaku, salah satunya pekerja seks komersial. Kemudian mengupayakan cara preventif, dengan pendekatan atau bimbingan konseling. Sebagian orang yang sudah terjangkit, dilakukan pengobatan secara intens. Sedangkan mereka yang bersih tidak terpapar virus, dilakukan cara pendekatan emosional sampai dirinya sadar dengan sendiri,” ucapnya.

Lihat juga...