Kembangkan Ilmu Kimia Berbasis Herbal, Meiny Suzery Dikukuhkan Jadi Gubes

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Pengembangan obat herbal di Indonesia, saat ini lebih  banyak diarahkan pada penggunaan secara langsung terhadap ekstrak atau simplisia tanaman kepada para pasien.

“Pola pengembangan seperti ini, sangat sulit diterima secara umum mengingat kualitas dan kuantitas serta keamanan dan efisiensi obat bahan alam tersebut, belum sepenuhnya terjamin. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan atau model yang diduga dapat mengikuti perkembangan zaman,” papar Prof. Dr. Dra. Meiny Suzery, MS, dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besar Teknik Kimia Undip, secara daring dari kampus Undip Tembalang, Semarang, Selasa (25/5/2021).

Dipaparkan dalam orasi berjudul ‘Model Pengembangan Ilmu Kimia Berbasis Herbal Untuk Kesehatan Masyarakat’ tersebut, pembahasan dimulai dengan penemuan senyawa aktif yang bertanggung jawab terhadap aktivitas biologis, dengan mengambil contoh sampel tanaman Hyptis pectinata.

“Senyawa hiptolida merupakan major component dalam tanaman ini, diduga berfungsi sebagai antikanker mengingat adanya cincin lakton. Banyak senyawa berkerangka lakton dapat mengikat gugus tiol dari protein, yang secara struktur analog dengan pironetin (cancer natural product), dan selektif pada target Lys-352 asam amino α-tubulin,” papar dosen Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip tersebut.

Tahap pertama yang dapat dilakukan adalah ekstraksi tanaman dan pemurnian ekstrak sehingga diperoleh senyawa murni.

“Analisis terhadap isolat dilakukan dengan teknik kromatografi. Analisis struktur dengan menggunakan spektroskopi (Ultraviolet, inframerah, massa dan NMR) dapat membuktikan bahwa produk hasil isolasi berupa senyawa hiptolida, yang dapat digunakan sebagai standar sekunder dalam menentukan kuantitas hiptolida dalam ekstrak Hyptis pectinata,” terangnya.

Banyaknya senyawa bioaktif hiptolida dalam ekstrak merupakan tahapan yang sangat krusial dalam pengembangan obat tradisional, sedangkan senyawa murni adalah dasar dari pengembang obat modern yang berasal dari herbal.

Dalam kesempatan yang sama, Undip juga mengukuhkan dua guru besar lainnya yakni Prof Dr. Suharnomo, SE. M.Si. dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) serta Prof. Dr. Ir. Hargono, M.T dari Fakultas Teknik.

“Kita terus mendorong muncul guru besar baru di Undip, meski untuk mencapai guru besar atau profesor syaratnya tidak mudah. Sebagai gelar dan pengakuan yang diberikan oleh negara, untuk menjadi guru besar seseorang harus berpendidikan minimal S3 (Strata-3) atau doktor. Kemudian ada tenggang waktu sudah lulus S3 minimal 3 tahun sebelum mengajukan, serta memiliki publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi,” papar Rektor Undip Prof. Yos Johan Utama, di sela pengukuhan.

Diterangkan, ketatnya kriteria yang ditetapkan membuat masih ada beberapa program studi yang masih belum memiliki dosen berkualifikasi guru besar.

“Menghadapi tantangan ini, Undip mendorong para dosen untuk mencapai jenjang akademik tertinggi melalui program OPOC (One Professor One Candidate). Program tersebut sudah mulai berbuah, dan kini 155 dari 1.674 dosen atau setara 9,1%, sudah mencapai gelar guru besar,” tandas Yos Johan.

Lihat juga...