Kesadaran Pentingnya Kemasan di Kalangan IKM Masih Rendah

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Berkembangnya sektor IKM Indonesia, sayangnya belum dibarengi kesadaran para pelaku kan pentingnya kemasan. Bukan hanya fungsinya sebagai wadah, tapi juga sebagai bagian promosi dan memenuhi aturan yang ada, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Ane­ka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Gati Wibawaningsih, S.Teks, MA., menyampaikan bahwa kemasan merupakan hal yang penting dalam peningkatan daya saing produk IKM.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Ane­ka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Gati Wibawaningsih, S.Teks., MA., menekankan pentingnya pelaku IKM untuk memperhatikan kemasan produknya dalam serial webinar Festival Joglosemar, Selasa (25/5/2021). –Foto: Ranny Supusepa

“Peningkatan ini bisa dalam bentuk branding dan warna sehingga saat masuk ke pasar, produk kita menarik minat konsumen. Terutama untuk produk yang pemasarannya secara online. Karena, pelaku IKM masih banyak yang belum menaruh perhatian pada masalah kemasan ini,” kata Gati, dalam serial webinar Festival Joglosemar, Selasa (25/5/2021).

Ia menegaskan, jangan sampai produk kita tidak dilirik dalam pemasaran, hanya karena kemasannya tidak menarik konsumen.

“IKM kita belum memberikan perhatian terhadap penggunaan kemasan yang baik, karena adanya keterbatasan pada pengetahuan bahan kemasan, teknologi dan alat pengemasan, desain kemasan dan label yang sesuai aturan yang berlaku,” ucapnya.

Selain itu, kemampuan finansial juga turut mempengaruhi kemampuan pelaku IKM untuk membeli kemasan dalam jumlah besar, tidak seperti industri besar.

“Ditambah juga, lokasi IKM yang menyebar membatasi akses IKM pada rumah kemasan atau klinik kemasan maupun UPT kemasan untuk mendapatkan informasi tentang kemasan yang sesuai aturan dan menarik. Sementara pelaku IKM sendiri tidak memiliki tenaga ahli sendiri,” ucapnya lagi.

Rumah kemasan, pun yang saat ini berjumlah 18 unit untuk yang dikelola pemerintah daerah dan 18 unit yang dikelola oleh pemerintah kota atau kabupaten, memiliki permasalahan untuk memperoleh bahan baku kemasan dengan harga murah.

“Sebagian besar rumah kemasan pun belum menggunakan teknologi pengemasan yang terkini, karena keterbatasan anggaran untuk memperoleh teknologi tersebut,” ujar Gati.

Untuk menyelesaikan masalah ini, ia menyebutkan Kemenperin sedang melakukan mapping dalam hal kelembagaan, SDM, peralatan, infrastruktur pendukung, layanan dan kendala yang dihadapi oleh rumah kemasan.

“Sehingga akan bisa menyusun rekomendasi kebijakan penguatan rumah kemasan. Kami juga mengembangkan platform kemasan secara online yang mempertemukan pelaku kemasan dan pengguna kemasan,” ujarnya, lagi.

Dengan adanya platform ini, diharapkan dapat menjadi sarana untuk mendapatkan informasi bagi IKM maupun rumah kemasan terkait teknologi kemasan, bahan baku kemasan, mesin kemasan, tren dan inovasi kemasan serta peraturan kemasan.

“Jadi, bisa ketemu di platform ini. Sharing maupun konsultasi antarpelaku. Bahkan, ada business matching juga, sehingga bisa menjalin peluang kerja sama usaha,” tutur Gati.

Pakar Industri 4.0, Fadli Hamsani, menyatakan dasar dari masalah kemasan adalah kebutuhan akan tenaga ahli untuk berkomunikasi dalam hal kemasan.

“Hasil analisa kita, menunjukkan apa yang dibutuhkan oleh rumah kemasan dan IKM di Indonesia adalah tenaga ahli untuk berkomunikasi. Dan, ini yang akan dijawab dengan hadirnya teknologi, dengan menghadirkan platform yang berisi data yang terintegrasi dan sistem yang bisa diakses dari mana saja,” kata Fadli dalam kesempatan yang sama.

Jadi, katanya, informasi terbaru dan akses pada bahan baku akan menjadi hal yang mudah didapatkan oleh pelaku IKM maupun rumah kemasan. Begitu juga sebaliknya, pelaku teknologi kemasan dan pemilik bahan baku dapat bertemu dengan penggunanya.

“Saat ini, platform-nya sudah pre-launch. Tapi masih dalam proses penyelesaian beberapa step. Rencananya akhir Mei akan launching, dan pada September nanti sudah akan ada akses untuk pelatihan dan pendampingan,” ujarnya.

Intinya, tujuan dari platform ini adalah memudahkan pelaku IKM dan rumah kemasan untuk mendapatkan informasi.

“Semuanya bisa di sini. Mulai bahan baku, desain hingga berkomunikasi secara langsung. Termasuk jadwal kegiatan terkait peningkatan kemampuan dalam mempersiapkan kemasan yang menarik dan memenuhi regulasi yang ada,” pungkasnya.

Lihat juga...