Lebaran CDN

Kopi Leworook Flores Timur Selalu Dicari Pelanggan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Kopi Leworook yang merupakan kopi robusta berasal dari Kampung Leworook, Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) selalu menjadi pilihan pelanggan saat bersantai di kantin sepanjang jalan negara Trans Flores di Desa Lewoingu, Kecamatan Titehena.

Pemilik Kantin Isabela di pinggir jalan negara Trans Flores Maumere-Larantuka di Eputobi, Desa Lewoingu, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT saat ditemui di tempat usahanya, Selasa (4/5/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Hampir semua pembeli yang mampir ke tempat usaha kami selalu meminta agar dibuatkan kopi Leworook karena kopinya asli dan rasanya pun beda dari kopi pabrik,” kata Elisabeth Kelang, pemilik Kantin Isabela, saat ditemui di tempat usahanya di pinggir jalan negara Trans Flores Maumere-Larantuka di Desa Lewoingu, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT, Selasa (4/5/2021).

Elisabeth katakan, tempat usahanya dan yang lainnya yang berjualan di area tersebut pun selalu menyajikan kopi asli Leworook dengan harga jual Rp5 ribu per gelasnya.

Ia menyebutkan, pengunjung biasanya minum kopi sambil memesan pisang goreng atau menyantap keripik pisang yang merupakan produk buatan tangganya dari bahan pisang Kepok.

“Hampir semua pengunjung biasa meminta dibuatkan kopi Leworook. Kami juga menjual kopi Leworook kemasan berbagai ukuran agar bisa dibawa oleh pengunjung,” ungkapnya.

Pemilik usaha Kopi Leworook, Yosef Lawe Oyan warga Desa Leraboleng,Kecamatan Titehena menyebutkan, sejak adanya pandemi penjualan kopi robusta Leworook memang mengalami penurunan drastis.

Yosef menambahkan, Kopi Robusta yang 500 gram dijual Rp75 ribu sementara untuk kemasan 200 gram dijual seharga Rp25 ribu dan 125 gram dijual Rp20 ribu per bungkusnya.

“Biasanya sebelum pandemi Corona kami mendapatkan pesanan setiap bulannya dari Jakarta tapi sejak pandemi hingga sekarang pesanan pun tidak ada lagi,” ungkapnya.

Yosef mengaku hanya mengandalkan pasar lokal termasuk menitipkannya ke kantin-kantin di Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Sikka dan beberapa wilayah di provinsi NTT yang memesannya.

Ia sebutkan beberapa pelanggan yang biasa menikmati kopi Leworook yang diolah secara tradisional dengan cara digoreng menggunakan tembikar dari tanah liat dan ditumbuk di lesung tetap memesan kopi ini.

“Pelanggan yang biasa minum kopi Leworook yang diolah secara tradisional tetap meminta agar dikirimi kopi ini. Mereka beralasan rasanya beda bila mencicipi kopi yang diolah secara modern,” ungkapnya.

Lihat juga...