Korban Banjir Adonara Jalani Idulfitri di Pengungsian

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Korban banjir bandang di Kelurahan Waiwerang Kota dan Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjalani hari raya Idulfitri di tempat pengungsian, akibat rumah mereka terbawa banjir bandang.

“Para pengungsi merayakan puasa dan lebaran di lokasi pengungsian. Tahun ini merupakan lebaran yang sangat berkesan bagi kami,” kata Iqbal Ansari Latif, pengurus Musala An-Nur Riangmuko, Kelurahan Waiwerang Kota, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT saat ditemui di lokasi pengungsian di masjid tersebut, Kamis (13/5/2021).

Pengungsi banjir bandang Adonara di Musala An-Nur Riangmuko, Kelurahan Waiwerang Kota, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT, Iqbal Ansari Latif saat ditemui di lokasi pengungsian di masjid tersebut, Kamis (13/5/2021). Foto: Ebed de Rosary

Iqbal menyebutkan, sebelumnya para pengungsi menjalani bulan puasa di posko-posko pengungsian tapi setelah masa tanggap darurat selesai mereka menetap sementara di rumah keluarga, kos dan gudang kosong milik pengusaha di Waiwerang.

Ia mengatakan, para pengungsi yang tersebar di Kelurahan Waiwerang dan Desa Waiburak serta Lamahala Jaya menjalankan salat Idulfitri di beberapa masjid di wilayahnya.

“Kami mengambil hikmahnya dimana selama ini Adonara tidak pernah mengalami bencana sedahsyat ini. Kita bersyukur masih diberikan kehidupan dan semua ini disyukuri,” ujarnya.

Iqbal katakan, semua orang ingin kembali ke rumahnya apalagi saat menjalani puasa dan Idulfitri di rumah sendiri. Tapi kenyataannya, sampai sekarang proses pembersihan material dan pemulihan  masih terhambat.

Ia mengaku, bersama 4 kepala keluarga mengungsi ke Musala An-Nur sejak usai bencana karena lokasi musala berada lebih tinggi sehingga tidak tergenang lumpur dan material banjir lainnya.

“Bantuan lebih banyak dari sukarelawan yang selalu datang. Tapi tidak kurang juga pemerintah memberikan perhatian dan mungkin keterbatasan pada pemerintah, karena kaget dengan keadaan ini,” ucapnya.

Iqbal sebutkan, pemerintah mengarahkan pengungsi ke posko untuk mendapatkan bantuan saja sudah lumayan, disamping juga mengumpulkan distribusi bantuan di posko pengungsi, dan didistribusikan kepada para korban bencana.

Sementara itu, Khadijah, seorang pengungsi lainnya di Kelurahan Waiwerang Kota, mengaku bersyukur, masih diberikan nafas kehidupan oleh Allah meskipun rumah dan tempat usahanya mengalami kerusakan parah.

Khadijah mengaku, setelah masa tanggap darurat selesai ia bersama anggota keluarganya memilih mengungsi sementara ke rumah sanak keluarga untuk sementara waktu.

“Bagi kami merayakan puasa dan lebaran tahun ini sangat berkesan. Kami bisa menjalani puasa di posko pengungsian bersama warga lainnya dan banyak sekali warga yang membantu kami,” ucapnya.

Lihat juga...