Korupsi Uang Parkir, Kepala Pasar Kumbasari Divonis 3 Tahun Penjara

Proses persidangan kasus korupsi uang parkir di Pasar Kumbasari secara virtual di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Kamis (20/05/2021) – Foto Ant

DENPASAR – Kepala Unit Pasar Kumbasari, Denpasar, Bali, I Made Alit Nuada, divonis penjara tiga tahun, karena terlibat dalam kasus korupsi retribusi parkir di Pasar Kumbasari, Denpasar.

Kasus korupsi tersebut, dinilai telah merugikan negara sebesar Rp157.500.000. “Mengadili, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa I Made Alit Nuada, dengan pidana penjara selama tiga tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dan membayar denda sejumlah Rp50 juta subsider dua bulan penjara,” kata majelis hakim yang dipimpin, I Wayan Gede Rumega, dalam persidangan secara virtual di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Kamis (20/5/2021).

Dalam persidangan, terdakwa diminta membayarkan dana pengganti retribusi parkir sebesar Rp157.500.00 juta. Apabila uang pengganti tidak dibayarkan dalam waktu satu bulan setelah putusan inkrah, maka harta benda dapat disita jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

Selanjutnya, apabila terdakwa juga tidak mempunyai harta benda yang mencukupi, maka diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan. Perbuatan terdakwa tersebut tercantum dalam dakwaan alternatif kedua jaksa penuntut umum yaitu Pasal 3 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah dengan UU RI No. 20 Tahun 2001.

Terdakwa didampingi penasehat hukumnya dari Posbakum Denpasar, Desi Purnani Adam, menyatakan menerima vonis tersebut. Sedangkan JPU menyatakan, memilih masih pikir-pikir.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Catur Rianita Dharmawati, meminta majelis hakim menyatakan terdakwa terbukti bersalah sesuai dalam Pasal 12e UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP dalam dakwaan alternatif kedua.

Dalam berkas tuntutan sebelumnya, terdakwa dituntut pidana penjara selama empat tahun enam bulan, dikurangi terdakwa dalam tahanan dan membayar denda sebesar Rp250 juta subsider dua bulan kurungan.

Awalnya, sejak menjabat menjadi Kepala Unit Pasar Kumbasari di 2018, terpidana, meminta kepada beberapa anggotanya yang bertugas memungut retribusi parkir dan kemudian menyisihkan uang hasil penerimaan jasa retribusi parkir di area Pasar Kumbasari.

Saksi pertama, I Ketut Arianta, menyisihkan penerimaan retribusi parkir Rp100.000 perhari, yang dikumpulkan dari pengunjung pasar yang tidak menerima karcis parkir. Setelah terkumpul sebanyak Rp3 juta lalu saksi memberikan kepada terdakwa.

Selanjutnya terdakwa meminta saksi, I Ketut Arianta, untuk menaikkan jumlah uang yang disisihkan menjadi Rp200.000. Sehingga setiap bulannya terdakwa Rp6 juta dari hasil uang parkir yang disisihkan. Penyisihan secara rutin setiap bulan tersebut terjadi sampai Mei 2019, atau berjumlah Rp99 juta.

Saksi kedua, I Kadek Suparta, juga menyisihkan uang retribusi parkir setiap harinya sebesar Rp30.000, kemudian dikumpulkan satu bulan menjadi Rp900 ribu sampai dengan bulan Mei 2019 tercatat ada Rp9 juta. Saksi ketiga, I Nyoman Sudarmika, telah menyisihkan dan menyerahkan uang retribusi parkir tiap bulan kepada terdakwa sebesar Rp3 juta. Pemberian kepada terdakwa dilakukan sebanyak 15 kali, sejak awal tahun 2018 sampai dengan 28 Mei 2019 dengan jumlah Rp45 juta.

Saksi terakhir, I Putu Karya, menyisihkan uang retribusi parkir tiap bulannya sebanyak Rp250.000 sampai Rp300.000, dan telah dilakukan 15 kali dengan total keseluruhan Rp4.500.000 juta. (Ant)

Lihat juga...