KWT ‘Melati’ Sukses Kembangkan Hortikultura di Lahan Miring

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, Desa Riit, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sukses mengembangkan tanaman hortikultura jenis tomat memanfaatkan lahan miring di desanya dan meraup pendapatan lumayan.

“Kami memanfaatkan lahan miring milik saya untuk dijadikan kebun contoh penanaman tomat dan berhasil,” kata Selviana Erosvita, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, Desa Riit, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui di kebun contoh milik kelompoknya, Senin (24/5/2021).

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Riit, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, Selviana Erosvita saat ditemui di kebun tomat milik kelompoknya, Senin (24/5/2021). Foto: Ebed de Rosary

Eros, sapaannya mengatakan, untuk mengakali kemiringan lahan, pihaknya menggunakan sistem terasering di lahan kebun contoh seluas sekitar 0,2 hektare di samping rumahnya.

Perempuan 54 tahun ini pun mengaku kelompoknya sudah 3 kali panen tomat yang ditanam di bulan Februari 2021 dimana panen pertama hanya menghasilkan 24 kilogram yang dijual Rp10 ribu per kilogramnya.

“Panen kedua kami mendapatkan hasil 300 kilogram dan pembelinya langsung membeli di tempat kami. Tomat kami jual seharga Rp14 ribu per kilogram karena harga di pasar sekitar Rp18 ribu per kilogramnya,” ujarnya.

Eros mengaku, harga jual disepakati bersama semua anggota setelah pihaknya mengecek harga tomat di Pasar Alok Maumere, dan mereka bersyukur saat panen harga jual tomat sedang tinggi.

Ia mengaku, awalnya kesulitan membuat terasering dan bedeng akibat lahan pertaniannya miring karena semua anggota kelompoknya perempuan yang tidak rutin bekerja di kebun.

“Awalnya kami sulit membuka lahan kebun ini karena harus membuat bedeng dan terasering. Kami semua ibu-ibu dan bukan setiap tahun kerja di kebun, hanya membantu suami saja,” ujarnya.

Eros mengaku, bermodal nekat dan berani menjalankan budidaya tanaman hortikultura jenis tomat karena sebelumnya mendapatkan pelatihan melalui Sekolah Lapang (SL) oleh Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Nita.

“Kami awalnya beranggotakan 14 orang tapi dalam perjalanan tinggal 12 orang saja karena yang 2 orang sudah tua. Kami sudah terbiasa jadi petani dimana musim hujan tanam hortikultura dan musim panas menenun,” ungkapnya.

Penyuluh Swadaya Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Nita, Erik Paji mengatakan, kegiatan bersama KWT Melati dimulai sejak bulan Februari 2021 yang diawali dengan melaksanakan Sekolah Lapang (SL).

Erik katakan, keberhasilan kegiatan budidaya tomat di kebun contoh ini berkat kerjasama dengan Pemerintah Desa Riit dan BPP Kecamatan Nita yang menyediakan 4 fasilitator bersama kepala BPP Nita dan seorang staf Organisme Pengganggu Tanaman.

“Pertemuan dilakukan setiap hari Selasa dan Minggu. Tantangannya di Desa Riit lahannya miring dengan kemiringan hingga 45 derajat sehingga penggunaan terasering menjadi kewajiban,” ungkapnya.

Lihat juga...