Lebaran CDN

Lampung Gandeng Berbagai Pihak Bangun Pariwisata Berkelanjutan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Provinsi Lampung terus mendorong upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan. Berbagai langkah pun dilakukan, dengan menggandeng pemangku kepentingan, pelaku industri pariwisata, masyarakat dan wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Dr. Edarwan, SE., M.Si, menyebut sebagai provinsi yang kaya akan pariwisata alam, konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable environment tourism) mutlak dilakukan. Berbagai langkah dilakukan, dengan menggandeng pemangku kepentingan, pelaku industri pariwisata, masyarakat dan wisatawan.

Edarwan menyebut, konsep pariwisata berkelanjutan mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata (Permenpar) No.14 Tahun 2016 tentang Destinasi Wisata Berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan menurutnya memperhitungkan aspek ekonomi, sosial lingkungan saat ini dan masa depan.  Memenuhi kebutuhan pengunjung, industri pariwisata, lingkungan, masyarakat setempat serta bisa diaplikasikan ke berbagai jenis kegiatan wisata.

Dr. Edarwan, SE., M.Si, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung saat dihubungi, Minggu (2/5/2021). -Foto: Henk Widi

Provinsi Lampung, sebut Edarwan, telah menyiapkan strategi pariwisata berkelanjutan. Dasar tersebut mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) No.6 tahun 2012 Tentang Rencana Induk Pengembangan  Pariwisata Daerah Provinsi Lampung. Menurutnya, tata kelola pariwisata berkelanjutan melibatkan partisipasi pemangku kepentingan secara berkesinambungan.

“Pariwisata berkelanjutan mendorong ekonomi. Bukan sekadar menambah penghasilan, namun juga kelangsungan mata pencaharian dan keseimbangan manfaat ekonomi, berkontribusi pada pengurangan angka kemiskinan,” terang Dr. Edarwan, SE., M.Si. saat dihubungi Cendana News, Minggu (2/5/2021).

Selain ekonomi, Edarwan menambahkan pariwisata berkelanjutan dapat melestarikan warisan budaya. Memastikan nilai tradisional untuk mempromosikan toleransi antarbudaya. Aspek pelestarian lingkungan menuju keberlanjutan lingkungan, konsumsi sumber daya perlu dikelola dan produksi limbah diminimalisir, khususnya dalam konteks warisan alam, keanekaragaman hayati dan budaya.

Sebagai langkah konkrit, Edarwan bilang provinsi Lampung mendorong pelaku wisata melakukan sertifikasi CHSE. Penerapan CHSE meliputi cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan) dan enviromment sustainability (kelestarian lingkungan).

Sertifikasi CHSE merupakan proses pemberian sertifikat kepada usaha pariwisata, destinasi dan produk untuk memberikan jaminan kepada wisatawan.

Sesuai data, sebut Edarwan, di Lampung sebanyak 72 hotel, restoran, toko oleh-oleh, destinasi wisata telah tersertifikasi CHSE. Pemberian sertifikasi melalui ketentuan yang ditetapkan oleh Kemenkraf. Survei dan juga berbagai parameter dilakukan agar usaha pariwisata, destinasi pariwisata dapat menggunakan logo ‘I do Care’ pada produk dan jasa yang dimiliki untuk keperluan promosi pariwisata.

“Standar dan indikator penilaian agara dapat sertifikat CHSE, di antaranya kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan,”cetusnya.

Sebagai upaya mendorong pariwisata berkelanjutan berstandar CHSE, Edarwan bilang menggandeng generasi muda. Generasi muda atau milenial menjadi peluang pasar di masa depan untuk pariwisata berkelanjutan. Eksistensi generasi muda dalam bersosial media dapat berpengaruh pada promosi pariwisata, memanfaatkan media sosial.

Partisipasi aktif dapat membangkitkan komitmen mendorong pelestarian sumber daya alam. Terlebih imbas pandemi global Covid-19, sektor pariwisata ikut berdampak. Peran kreatif generasi muda Lampung diperlukan untuk menghadirkan wisata virtual. Pariwisata yang menghadirkan audio visual bagi wisatawan yang terkendala ke Lampung, sementara bisa berwisata virtual.

“Saat pandemi berakhir, maka wisatawan bisa mengobati kerinduannya mengunjungi Lampung,” bebernya.

Pelaku wisata berkelanjutan, Lutfi Wardah, menyebut konsep wisata alam menjadi tujuannya. Membangun taman wisata alam Bamboe Koening di Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan berbasis lingkungan. Wisata berkelanjutan dengan konsep CHSE telah dilakukan selama pandemi Covid-19. Wisata alam yang memberi kesempatan mengedukasi masyarakat pentingnya menjaga alam.

“Objek wisata yang tidak mengubah fungsi alami sawah, sungai namun tetap memberi tempat rekreatif menerapkan protokol kesehatan,” terang Lutfi Wardah.

Lutfi Wardah menyebut, pariwisata berkelanjutan menerapkan kebersihan. Sebagai objek wisata yang dikunjungi, ia menyediakan kotak sampah. Menyelamatkan lingkungan bisa dilakukan dengan mendonasikan botol minuman bekas pakai. Sejumlah kemasan minuman plastik itu bisa didaur ulang sekaligus menjadi sumber penghasilan.

Evi Anggraini, salah satu milenial pengunjung taman wisata alam Bamboe Koening, menyebut wisata alam menjadi buruan kala pandemi. Destinasi wisata alam yang masih asri, menerapkan keberlanjutan lingkungan menjadi tempat yang cocok. Ia bisa menikmati udara sejuk, alam persawahan dan menghindari kerumunan. Langkah itu menjadi alternatif untuk berwisata aman kala pandemi.

Pegiat wisata berbasis alam, Ardi Yanto, menyebut sektor pariwisata berkelanjutan terus digaungkan. Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni yang kaya wisata alam pantai, bukit menerapkan CHSE. Kendala persoalan sampah diatasi dengan penyediaan tempat khusus. Selain aspek ekonomi, upaya pelestarian lingkungan dilakukan dengan penanaman pohon, mangrove tepi pantai.

Objek wisata bukit Pematang Sunrise, sebut Ardi Yanto berbasis alam. Meski di lokasi perbukitan dan view laut, standar kesehatan selama pandemi Covid-19 diterapkan. Dukungan dan peningkatan SDM untuk tata kelola pariwisata berkelanjutan diberikan oleh pemerintah setempat.

Selain pariwisata berkelanjutan pihaknya, juga mendukung promosi kekayaan budaya yang bisa ditampilkan bagi wisatawan serta tradisi kuliner setempat. (Ant)

Lihat juga...