Lukisan Ki Joko Wasis Jadi Koleksi Museum Presiden Soeharto

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Setelah berjalan kaki sekitar 15 kilometer dengan menempuh waktu hampir 6,5 jam lebih, salah seorang seniman lukis asal Yogyakarta, Ki Joko Wasis (61), akhirnya tiba di Museum Memorial HM Soeharto, Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Minggu (30/5/2021) sore sekitar pukul 17.00 WIB.

Pada saat yang bersamaaan, sebuah lukisan yang menggambarkan sosok Presiden Soeharto, yang ia lukis selama perjalanan dari rumahnya di kampung Kadipaten Kulon, Kraton, Yogyakarta, rampung ia buat. Lukisan tersebut kemudian ia serahkan untuk Museum Memorial HM Soeharto, dan diterima pengurus museum, Gatot Nugroho.

Pelukis Ki Joko Wasis saat melukis Presiden Soeharto, Minggu (30/5/2021) – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Sebelum mundur jadi presiden, Pak Harto saat itu sempat meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Dan hari ini saya menjawab, memaafkan beliau, dengan melukis sambil berjalan kaki,” ujarnya.

Bagi Ki Joko Wasis, yang bernama asli Muhammad Ali ini, Pak Harto merupakan sosok yang luar biasa. Tak hanya kagum dan memuliakan, ia juga mengaku mendapatkan banyak hal positif selama 32 tahun kepemimpinan Pak Harto.

“Saya melakukan ini semua sebagai bentuk apresiasi saya yang tinggi pada Pak Harto. Karena hidup saya sejak kecil sampai menikah selalu bersama kepemimpinan Pak Harto. Dan selama itu tidak ada hal yang menakutkan,” katanya.

Menurut bapak 4 anak ini, Pak Harto merupakan sosok wali Tuhan sekaligus wali negara. Di mana Pak Harto memiliki karakter yang menyatu dengan alam.

Hal itulah yang menurutnya membuat periode kepemimpinan Pak Harto tidak banyak terjadi bencana. Baik itu bencana alam maupun bencana sosial dan sebagainya.

“Pak Harto itu seorang wali yang dipilih situasi. Sehingga ketika tidak dihormati, terjadilah kehidupan yang tidak hormat menghormati. Karena ada sesuatu yang tidak dihargai. Sehingga apa pun sekarang ini akan menjadi tidak berharga. Guru, ulama, tidak berharga, ketika orang tidak lagi menghargai dan menghormati orang lain,” katanya.

Atas dasar itulah, Ki Joko Wasis pun mengajak seluruh masyarakat untuk tetap saling menghormati, menghargai, menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Sehingga generasi ke depan juga akan merasakan hal yang sama.

Tak hanya itu, ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama saling mencari kebaikan. Karena menurutnya kebaikan akan melahirkan kebaikan. Sebagaimana kepercayaan juga akan melahirkan kepercayaan. Dan kebencian serta cacian, juga akan melahirkan kebencian dan cacian pula.

Sementara itu, pengelola Museum Memorial Soeharto, Gatot Nugroho, mengaku terkejut sekaligus bangga dengan apa yang telah dilakukan Ki Joko Wasis. Di mana menjelang peringatan 100 Tahun Presiden Soeharto, beliau bersama sejumlah pelaku seni lainnya di Yogyakarta, secara ikhlas mau melakukan sesuatu untuk mengenang dan menghormati bapak bangsa.

“Saya sangat mengapresiasi, karena saya sebelumnya sama sekali tidak tahu ada kegiatan ini. Lukisan ini kita terima dan akan kita pajang di salah satu ruang utama Museum Memorial Soeharto ini,” ungkapnya.

Menurut Gatot, apa yang telah dilakukan Ki Joko Wasis bersama teman-temannya patut diapresiasi setinggi-tingginya. Pasalnya setiap elemen bangsa harus senantiasa mengingat para pendahulunya.

Karena para pendahulu dan pemimpin bangsa seperti Pak Karno dan Pak Harto, merupakan bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia yang tidak bisa dilepaskan sampai kapan pun.

“Generasi penerus bangsa harus senantiasa memiliki semangat membangun dan cinta tanah air. Karakter bangsa yang dibangun Pak Harto dengan mempertahankan Pancasila dan UUD 45 itu, harus terus menjadi bagian penting untuk anak-anak bangsa,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui dalam rangka menyongsong peringatan 100 Tahun Pak Harto, sejumlah pelaku seni dan perupa di Kota Yogyakarta menggelar aksi moral melukis sosok Presiden Soeharto, Minggu (30/5/2021) pagi.

Aksi tersebut dilakukan dengan cara unik yakni laku jalan kaki mubeng beteng Keraton Yogyakarta, menuju Museum HM Soeharto di Kemusuk di Kabupaten Bantul, dan Astana Giri Bangun di Jawa Tengah.

Salah seorang seniman lukis yang tergabung dalam Paguyuban Perupa Mataram Asri Yogyakarta, Ki Joko Wasis, didampingi sejumlah seniman lainnya rela berjalan sekitar 15 kilometer tanpa alas kaki untuk melukis sosok Presiden Soeharto di tengah teriknya sinar matahari.

Sesampainya di Museum Memorial Soeharto, mereka kemudian menyerahkan dan menyedekahkan karya lukisan sosok Pak Harto tersebut kepada pengurus museum sebagai koleksi.

Lihat juga...