Mampat, Air Sungai CBL Belum Bisa Aliri Sawah di Bekasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

Dedi Kurniawan pegiat lingkungan hidup di wilayah Kabupaten Bekasi, saat ditemui Cendana News, Senin (3/5/2021) – Foto: Muhammad Amin

“Dalam sebulan ke depan utara Kabupaten Bekasi akan mengalami kekeringan. Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya melihat kondisi pintu air mampet dipenuhi material padat.

Kondisi tersebut membuat masa depan  petani semakin suram. Saat ini jelasnya, padi para petani sudah mulai bunting dan mulai menguning tapi tiba-tiba pasokan air hilang.

“Petani secara swadaya telah membendung air Kali Cikarang  ke arah CBL agar debit air yang mengalir ke jalur utara tetap mengalir walaupun sedikit. Ternyata pintu air untuk mengalirkan air ke utara mampet dan perlu penanganan lebih serius lagi,” ujarnya.

Atas kondisi itu, ia mendesak ada upaya nyata dari pemerintah, karena belum hilang trauma yang diakibatkan banjir dua bulan yang lalu, kini mereka kembali ditimpa musibah ancaman kekeringan ekstrem.

“Itulah potret yang terjadi pada hari ini, pada suatu wilayah yang menyokong industri nasional yang 37%  produknya diekspor ke mancanegara. Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanyanya lagi.

Ditegaskan, bahwa setahun sudah masalah ini juga diperjuangkan pegiat lingkungan. Namun hasilnya sama sekali belum maksimal, dan semua pihak terkait cenderung menganaktirikan penyelesaian soal sungai.

“Sebenarnya  sangat sederhana yaitu hukum ditegakkan terkait pelanggaran pidana terhadap sungai, redeforestasi, DAS, anggaran yang transparan dan akuntabel, berkaitan juga dengan  pemeliharaan serta pengawasan yang ketat di setiap sepadan sungai,” tandasnya.

Lihat juga...