Lebaran CDN

Manfaatkan Momentum, Strategi UMKM Lampung Bertahan Kala Pandemi

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Bandar Lampung manfaatkan peluang sebagai momentum untuk bertahan kala pandemi.

Suharsono, pedagang kuliner nasi uduk bersama istri mengaku sempat alami penurunan omzet jutaan rupiah per pekan. Faktor pandemi Covid-19 saat pelajar, mahasiswa belajar online, omzet penjualan nasi uduk anjlok.

Hantaman pandemi Covid-19 bagi sektor usaha kecil sebut Suharsono cukup terasa. Pedagang di pasar Kangkung, Teluk Betung, Bandar Lampung itu berpikir keras. Bersama sang istri keduanya tetap menjual nasi uduk meski jumlah nasi yang dimasak berkurang. Normalnya dalam sehari ia memasak sekitar 10 kilogram beras lengkap dengan lauk pauk. Namun pandemi membuat 5 kilogram nasi uduk terjual sudah lumayan.

Memutar otak dengan manfaatkan peluang jadi solusi bagi Suharsono. Ia mengaku dunia perdagangan sangat fleksibel, statis dan butuh keberanian. Peluang dimanfaatkan olehnya bersama istri saat masuk bulan suci Ramadan. Kuliner nasi uduk yang kerap digunakan konsumen untuk sarapan dipastikan tidak laku kala pagi. Beralih menjual kue jadi peluang baginya tetap eksis memiliki usaha.

“Perubahan waktu, komoditas yang dijual menjadikan usaha saya tetap bertahan saat pandemi, selalu mencoba hal baru dan kreatif untuk pangsa pasar baru berdasarkan momentum untuk mengambil peluang mutlak diperlukan agar tetap bisa mendapatkan omzet,” terang Suharsono saat ditemui Cendana News, Selasa (4/5/2021).

Bulan Ramadan dimanfaatkan Suharsono (kiri) menjual beragam kue tradisional untuk kebutuhan menu berbuka puasa setelah sebelumnya menjual nasi uduk bersama istri di Pasar Kangkung, Telukbetung, Bandar Lampung, Selasa (4/5/2021). -Foto Henk Widi

Suharsono bilang pola waktu kerja diubah telah menjadi risiko. Sebab ia dan sang istri juga menjalankan ibadah puasa ramadan. Normalnya sebelum subuh ia telah menyiapkan nasi uduk untuk dijual sebagai menu sarapan. Selama ramadan ia dan sang istri menjual kue tradisional. Berbagai kue diproduksi dominan untuk kebutuhan berbuka puasa (takjil). Sebagian untuk warga yang tidak berpuasa.

Mengubah komoditi yang dijual sebut Suharsono tidak butuh proses pemasaran rumit. Sejumlah pelanggan tetap mengenalnya sebagai pedagang nasi uduk. Namun saat ramadan alih barang dagangan tetap membuatnya dikenal sebagai penjual kue. Menjual kue sebutnya juga butuh strategi terkait barang yang dijual. Sebab ia memiliki waktu berjualan kala pagi dan sore hari.

“Pagi hari kami menjual jajanan pasar yang awet hingga sore, juga bagi warga yang tidak berpuasa, siang hari produksi menu takjil untuk menu berbuka puasa,” bebernya.

Varian makanan ringan, minuman dibuat olehnya menyesuaikan minat pasar. Survei ke sejumlah lokasi penjualan menu takjil juga dilakukan untuk memperluas lokasi penjuala. Saat pagi ia mencoba peruntungan di pasar Kangkung, saat sore ia bergabung dengan pedagang takjil di Enggal. Mengubah waktu, komoditi yang dijual sebutnya jadi upaya tetap bertahan saat pandemi.

Siti Maesaroh, pedagang kue di pasar Gudang Lelang, Teluk Betung memiliki strategi survei minat pasar. Ia membaca peluang saat ramadan dengan produksi kue khas yang banyak diminati konsumen. Pada kondisi normal kala warga tidak berpuasa produksi jajanan pasar dijualnya. Namun selama ramadan ia memproduksi kue kue khas, minuman yang cocok dikonsumsi saat ramadan.

“Jenis kue yang tahan lama, bisa disimpan hingga waktu berbuka dan sahur saya prioritaskan,” bebernya.

Berbagai jenis kue basah yang dikemas dengan baik menjadikan kue produksinya awet. Hindari makanan basi, ia mempergunakan kemasan yang kedap udara dan bahan bermutu. Ia juga memperbanyak kue khas ramadan untuk meningkatkan penjualan. Jenis kue yang dijual berupa putu mayang, pempek, kolak dan berbagai minuman dan makanan ringan.

Bertahan kala pandemi dilakukan pelaku usaha kecil, Marni dan Rudi, dua pedagang di pasar Bambu Kuning, Tanjung Karang. Semula Marni merupakan pedagang sayur keliling namun beralih menjual buah segar. Bersama sang suami ia menjual buah melon, semangka, nanas, blewah dan timun suri. Alih barang jualan sebutnya jadi hal biasa untuk tetap mendapat penghasilan.

“Peluang dan momentum harus dimanfaatkan dengan baik, sebab buah segar diminati oleh pedagang menu takjil, warga yang membuat minuman segar untuk berbuka puasa,” cetusnya.

Tetap fokus pada satu usaha juga jadi kunci sukses Rudi, pedagang kue kering Selly. Ia menyebut saat pandemi tahun pertama omzet anjlok dari semula Rp4juta perhari menjadi Rp1juta perhari. Penjualan yang stagnan tidak menyurutkan optimismenya. Tahun kedua pandemi ia alami peningkatan omzet signifikan. Permintaan tinggi pada kue kering membuat omzet stagnan Rp3 juta pe rhari.

Rudi menyebut memiliki pelanggan tetap dilakukannya dengan memberi diskon. Diskon diberikan dengan potongan harga. Barang tidak terjual sebutnya lebih rugi daripada memberi diskon harga. Imbasnya kesetiaan pelanggan meningkat. Memasuki ramadan 1442 H/2021 pelanggan tetap datang padanya dengan permintaan kue kering meningkat. Pelanggan yang diberi diskon sebutnya jadi peluang meningkatkan omzet.

Lihat juga...