Mengenal Lebih Dekat Kawasan Kampung Singkong di Cireundeu

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BOGOR – Prinsip hidup Teu Nyawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat yang memiliki arti tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat, diterapkan menjadi nilai kearifan lokal di Kampung Adat Cireundeu.

Ujaran ini merupakan filosofi hidup warga Kampung Adat Cireundeu yang menjadikan mereka dikenal sebagai Kampung Singkong.

Juru Bicara Kampung Adat Cireundeu, Sudrajat menjelaskan, awal kebiasaan mengonsumsi ketela atau singkong sebagai bahan pokok telah menjadi turun temurun sejak puluhan tahun lalu.

Jubir Kampung Adat Cireundeu, Sudrajat atau Kang Jajat, menyampaikan bahwa berbagai adat budaya masih dipegang teguh warga Kampung Adat Cireundeu, dalam acara budaya di Museum Tanah dan Pertanian Bogor, Minggu (30/5/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Para leluhur pernah berpesan agar warga menanam ketela menggantikan padi. Diawali saat sawah-sawah yang ditanami padai mengering dan menyebabkan fuso sekitar tahun 1918. Jadi, para leluhur Kampung Adat Cireundeu menyarankan untuk menanam ketela sebagai pengganti padi. Karena ketela dapat ditanam pada saat musim kering maupun musim penghujan,” kata Kang Jajat, demikian ia akrab dipanggil, dalam acara budaya di Museum Tanah dan Pertanian, Bogor, Minggu (30/5/2021).

Sejak tahun 1924, ia menyebutkan, masyarakat Cireundeu sudah mulai mengonsumsi ketela hingga saat ini.

“Manfaatnya, warga Kampung Adat Cireundeu tidak terpengaruh oleh harga bahan pokok yang melambung tinggi. Saat ini bahkan sudah menjadi aspek wisata kuliner,” ucapnya.

Kang Jajat menyebutkan, karena sudah menjadi budaya, warga Kampung Adat Cireundeu bisa memaksimalkan tanaman ketela.

“Ketela dapat diolah menjadi aci atau sagu dengan cara digiling kemudian diendapkan lalu disaring. Sementara, ampas ketela bisa dijadikan beras dengan cara dijemur. Kami menyebutnya rasi atau angeun,” paparnya.

Beras singkong (rasi) awal mulanya digagas oleh Ibu Omah Asnamah, Putra Bapak Haji Ali yang kemudian diikuti oleh seluruh warga Kampung Adat Cireundeu.

“Berkat inovasinya tersebut pada 1946 Pemerintahan melalui Wedana Cimahi memberikan penghargaan kepada Ibu Omah Asnamah sebagai Pahlawan Pangan,” paparnya lagi.

Bahakan nama ini kemudian diperkuat dengan adanya sebuah patung singkong di depan garbang masuk Kampung Adat Cireundeu.

“Sebagai bahan makanan pokok, singkong di Kampung Adat Cireundeu per harinya bisa memproduksi rasi sekitar 5 sampai 7 kuintal. Dan jika musim kemarau tiba, kuantitas rasi bahkan bisa mencapai 1 ton per harinya,” kata Kang Jajat.

Produksi rasi yang cukup besar ini didukung oleh luas lahan kebun singkong di Kampung Cireundeu yang mencapai 17 hektare.

Kang Jajat mengungkapkan, masyarakat Kampung Adat Cireundeu berkeyakinan bahwa tradisi mempertahankan rasi ini nantinya dapat menjawab tantangan swasembada pangan di Indonesia.

“Untuk mengolah sendiri beras singkong juga sama dengan menanak nasi pada umumnya. Sama halnya memakan dengan nasi, warga sehari-harinya mengonsumsi rasi bersama lauk pauk dan aneka sayuran,” pungkasnya.

Lihat juga...