Menkeu Klaim APBN Sudah Bekerja Keras Pulihkan Ekonomi

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengklaim APBN telah bekerja sangat keras mempercepat pemulihan ekonomi selama masa pandemi Covid-19. Tercatat, realisasi belanja negara hingga akhir April 2021 mencapai Rp723,0 triliun atau 26,3 persen APBN 2021.

“Angka ini tumbuh signifikan sebesar 15,9 persen (yoy). Realisasi belanja negara terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp489,8 triliun dan TKDD sebesar Rp233,2 triliun,” ujar Menkeu dalam Konferensi Pers APBN KiTa yang digelar virtual, Selasa (25/5/2021).

Menkeu menyebut, bahwa realisasi belanja pemerintah pusat tumbuh tinggi, terutama didukung oleh pertumbuhan Belanja K/L sebesar 37,2 persen (yoy) dan belanja non K/L yang tumbuh 17,7 persen (yoy).

“Capaian ini terutama didukung oleh penanganan kesehatan dan vaksinasi, serta pemberian bantuan pelaku usaha mikro, serta memberikan manfaat berupa pengadaan 23,9 juta dosis vaksin, klaim biaya perawatan untuk 159,7 ribu pasien Covid-19, pemberian bantuan kepada 8,29 juta pelaku usaha mikro, dan pemberian BOS Kemenag kepada 3,45 juta siswa sekolah swasta, serta pemeliharaan infrastruktur jalan dan jaringan senilai Rp1,5 triliun,” papar Menkeu.

Selanjutnya untuk realisasi belanja bansos, Menkeu menyatakan sudah mencapai Rp61,4 triliun, atau tumbuh 0,1 persen. Antara lain disalurkan melalui pemberian bantuan Iuran Jaminan Kesehatan bagi 96,5 juta masyarakat miskin, pemberian sembako kepada 15,9 juta KPM, penyaluran Bansos Tunai kepada 9,6 juta KPM.

“Pemberian bantuan PKH juga sudah tersalurkan kepada 9,7 juta KPM, pemberian KIP Kuliah kepada 906,9 ribu mahasiswa dan penyaluran PIP kepada 9,9 juta siswa,” tandasnya.

Sementara itu, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Luky Alfirman, menambahkan pembiayaan utang masih terjaga di tengah meredanya tekanan pasar keuangan, meski demikian volatilitas ke depan masih perlu diwaspadai.

“Sampai akhir April 2021, realisasi pembiayaan utang tercapai Rp410,1 triliun atau 34,8 persen, terdiri dari realisasi SBN (Neto) sebesar Rp416,7 triliun dan realisasi Pinjaman (Neto) sebesar negatif Rp6,6 triliun,” kata Luky.

Sementara itu, kontribusi Bank Indonesia sesuai dengan SKB I yang mencapai Rp108,43 triliun, terdiri dari SUN sebesar Rp68,83 triliun dan SBSN sebesar Rp39,59 triliun.

“Terdapat SILPA per 30 April 2021 sebesar Rp254,19 T sebagai buffer, karena kebutuhan belanja dan pembiayaan yang cukup besar di bulan Mei 2021, sementara penerbitan SBN melalui lelang tidak dilakukan selama libur Lebaran,” pungkas Luky.

Lihat juga...