Menyoal Penyebab Banjir di Kota Semarang dan Penanganannya

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Benarkah banjir di Kota Semarang akibat curah hujan yang ekstrem? Pertanyaan tersebut menjadi dasar dari Koalisi Maleh Dadi Segoro, dalam melakukan penelitian terkait penyebab banjir di kota itu yang terjadi pada Februari 2021 lalu.

“Pada bulan Februari 2021 lalu, terjadi banjir pada tanggal 5-7 Februari. Titik banjir cukup banyak, ada 24 lokasi banjir. Kemudian terjadi banjir pada 23 Februari, di 19 lokasi dengan ketinggian banjir antara 20-25 cm. Dari dua momen tersebut, dengan memperhatikan persoalan banjir ini, menarik untuk didiskusikan dan diteliti,” papar Bagas Yusuf Kausan, peneliti dari Koalisi Maleh Dadi Segoro, dalam webinar ‘Banjir di Semarang Faktor Alam atau Buatan?’ yang digelar daring di Semarang, Rabu (5/5/2021).

Pihaknya melihat ada kecenderungan sikap dari pemerintah untuk mendepolitisasi momen banjir di Kota Semarang, yang dalam perspektifnya menjadi sekadar persoalan teknis.

Bagas Yusuf Kausan, peneliti dari Koalisi Maleh Dadi Segoro, dalam webinar ‘Banjir di Semarang Faktor Alam atau Buatan?’ yang digelar daring, di Semarang, Rabu (5/5/2021). –Foto: Arixc Ardana

“Pemerintah memaparkan, bahwa banjir hanya dikaitkan dengan curah hujan ekstrem, pompa yang tidak berfungsi dengan baik, atau hal teknis lainnya. Itu kami sebut mendepolitisasi banjir,” tandasnya.

Dari cara pandang tersebut, pihaknya menilai solusi yang ditawarkan pun hanya dari cara pandang depolitisasi.

“Solusi yang ditawarkan pun cenderung teknis, banjir akan diselesaikan dengan normalisasi sungai atau pembangunan tol tanggul laut Semarang-Demak,” tandas Bagas.

Pihaknya melihat, seharusnya penyelesaian tersebut tidak hanya sekadar teknis dan apolitis.

“Bukan hanya masalah pompa rusak atau curah hujan tinggi, namun satu persoalan kompleks. Misalnya terjadi perubahan penggunaan ruang di daerah aliran sungai (DAS), atau pengambilan air tanah yang berlebihan hingga pembebanan infrastruktur,” lanjutnya.

Ia menegaskan, rusaknya DAS tapi solusi yang ditawarkan lebih ke pembangunan infrastruktur berskala besar, termasuk pembangunan tol tanggul laut, yang juga berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Pertanyaan lalu muncul, apakah urbanisasi DAS berhubungan dengan peningkatan risiko banjir?

“Urbanisasi ini tidak dimaknai perpindahan penduduk dari desa ke kota, tapi lebih pada proses bagaimana kota tercipta. Misalnya perubahan dari kawasan hijau, tempat penyerapan air, menjadi wilayah pemukiman. Jika kita lihat petanya, memang hasilnya berpengaruh,” tandasnya.

Sementara, Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Budi Prakosa melihat ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab banjir di Kota Semarang pada awal tahun lalu tersebut.

“Faktor pemicunya karena ada alih fungsi lahan RTRW, dari wilayah hijau menjadi wilayah pemukiman. Lalu, pengambilan air tanah secara berlebihan yang mengakibatkan penurunan lahan. Termasuk juga di wilayah pantai, ada erosi dan abrasi, serta kenaikan muka air laut hingga pengerukan kolam pelabuhan. Sektor-sektor ini turut menjadi penyebab banjir di Kota Semarang,” terangnya.

Ditegaskan, diperlukan koordinasi kebijakan pembangunan antarwilayah, sebab persoalan banjir tidak bisa diselesaikan dari satu sisi, namun saling sinergi. Termasuk dengan wilayah sekitar Kota Semarang, seperti Kabupaten Semarang dan Kendal.

“Solusi saat ini yang kita tawarkan berupa pemanfaatan kanal, terutama Banjir Kanal Timur (BKT) dan Banjir Kanal Barat (BKB), yang saat ini sudah ada dalam mengoptimalkan aliran air, sehingga tidak terjadi banjir,” terangnya.

Saat ini juga tengah dalam pembangunan Kabal Kali Beringin dan Kanal Kali Babon. “Kanal ini kita manfaatkan untuk mengalirkan air kiriman dari daerah hulu. Sementara untuk hujan setempat, air dialirkan melalui saluran sungai,” tambahnya.

Budi juga menjelaskan, pihaknya juga mengoptimalkan saluran sabuk, untuk mengalirkan air dari wilayah perbukitan yang curam sebelum masuk ke wilayah daratan, sehingga air masuk ke kanal besar.

“Contohnya di Jalan Sriwijaya Semarang, di sana ada saluran yang sejajar dengan jalan. Itu saluran sabuk yang dikirim ke BKT dari wilayah Ungaran Barat. Upaya-upaya ini kita optimalkan, agar banjir tidak kembali lagi terjadi di Kota Semarang,” pungkasnya.

Lihat juga...