Lebaran CDN

Mudik Awal tak Berpengaruh terhadap Pelaku Usaha di Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Aktivitas pelaku perjalanan yang mudik lebih awal dari Sumatera ke Jawa dan sebaliknya terlihat di pelabuhan Bakauheni.

Meski demikian mudik lebih awal tersebut belum berimbas pada pelaku usaha musiman di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Haryuni, pedagang oleh oleh di Desa Tarahan, Kecamatan Ketibung mengaku tidak banyak pemudik mampir.

Meski lalu lalang kendaraan roda dua, roda empat terlihat ramai sebagian hanya istirahat sejenak. Pedagang oleh oleh keripik, kerupuk, minuman ringan itu bahkan baru mengantongi uang Rp75.000 sehari.

Jumlah yang sangat minim dibandingkan musim mudik lebaran sebelum pandemi. Ia menyebut ada sejumlah faktor usaha di tepi Jalinsum sepi pembeli.

Alih alih mendapat keuntungan, beberapa pedagang di Jalinsum sebut Haryuni gulung tikar. Faktor beroperasinya Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) memukul usaha kecil sejak lima tahun terakhir.

Belum usai pukulan telak keberadaan JTTS, pandemi global Covid-19 berimbas larangan mudik. Bagi pelaku usaha pemudik jadi pundi pundi rupiah saat mampir ke tempat usahanya.

“Pedagang di tepi Jalinsum menjadi semacam rest area karena jadi lokasi istirahat, ke toilet hingga makan dan membeli oleh oleh bagi pelaku perjalanan memakai motor dan mobil, namun kendaraan mobil pemudik lebih memilih melintas via tol apalagi jurusan Sumatera Selatan,” terang Haryuni saat ditemui Cendana News, Selasa (4/5/2021).

Haryuni bilang ia mulai mengurangi stok barang yang dijual. Sebelumnya pasokan berasal dari produsen lokal namun karena penjualan menurun, produksi oleh oleh berkurang.

Ia memilih menjual produk makanan ringan hasil produksi keluarganya. Jenis makanan dan minuman ringan sebutnya dijual mulai harga Rp7.000 hingga Rp20.000 per kilogram atau per kemasan.

Meski mudik lebih awal memberi kesempatan masyarakat pulang ke kampung halaman, Haryuni bilang usahanya sepi. Beban operasional untuk sewa kios, biaya listrik dan biaya lainnya masih bisa ditutupi dari penjualan sebelum pandemi.

Ia mengaku sebagai solusi telah berpindah ke lokasi baru yang dimilikinya sehingga biaya sewa bisa dihemat.

“Penghematan sebagai pelaku usaha telah saya lakukan namun imbas pandemi meski mudik lebih awal tidak berdampak signifikan bagi pelaku usaha kecil,” terangnya.

Agusrini, pedagang di tepi Jalinsum Bakauheni mengaku dua musim mudik lebaran usahanya sepi. Ia memilih menjual kerupuk kemplang, minuman dan makanan ringan lain sebagai oleh oleh.

Agusrini, salah satu pelaku usaha kecil di Jalan Lintas Sumatera menjual oleh oleh untuk pemudik yang akan menyeberang ke pulau Jawa, Selasa (4/5/2021) – Foto: Henk Widi

Penurunan signifikan pada sektor usaha kecil telah dialaminya sejak enam tahun terakhir. Sebelumnya dari usaha menjual makanan, minuman ringan di tepi Jalinsum ia bisa membeli kendaraan motor.

Namun imbas sepinya omzet terlebih saat larangan mudik lebaran motor terpaksa dijual. Faktor berkurangnya kendaraan pelaku perjalanan melintas menjadi penyebab penurunan omzet.

Ia memilih menjual sebanyak dua ball kerupuk kemplang. Kondisi itu lebih sedikit dibanding dengan tahun sebelumnya mencapai sepuluh ball. Menyediakan stok terbatas jadi cara baginya mengurangi kerugian.

“Saat ini yang penting bisa mendapat keuntungan minimal daripada tidak sama sekali saat pemudik pulang lebih awal,” bebernya.

Agusrini bilang sejak dua pekan terakhir pemudik asal Sumatera tujuan Jawa meningkat. Menjual oleh oleh tepat di dekat SPBU Garuda Hitam Jalinsum KM 3 menjadi tempat istirahat pelaku perjalanan.

Namun saat mudik lebih awal hanya terbatas ia tidak mendapat omzet signifikan. Pemudik yang akan melakukan perjalanan sebutnya kerap mampir untuk mengisi bahan bakar sekaligus membeli oleh oleh.

Selain di Jalinsum penurunan omzet dialami oleh pedagang di terminal pelabuhan Bakauheni. Handoyo, pedagang minuman ringan dan makanan mengaku mudik lebaran kerap jadi berkah.

Namun imbas aturan larangan mudik, sebagian warga memilih mudik lebih awal. Meski mudik lebih awal pedagang tidak mendapat keuntungan signifikan. Ia hanya mampu mendapat omzet kisaran Rp150.000 per hari.

Penurunan omzet tersebut diantisipasi oleh pedagang pada zona A terminal. Beberapa pedagang memilih waktu berjualan saat malam.

Usaha berjualan di sekitar pelabuhan sebutnya dipengaruhi oleh pelaku perjalanan turun dari kapal dan sebaliknya. Tingkat penumpang yang turun dari kapal berkurang dari tahun sebelumnya berimbas pada penurunan volume penjualan.

Lihat juga...