Lebaran CDN

Nasi Golong, Wujud Ungkapan Syukur Merayakan Paskah

Editor: Maha Deva

Nasi golong siap disantap dengan telur, urap atau kuluban serta lauk ayam kampung, menjadi menu istimewa untuk ungkapan syukur oleh warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan asal Jawa, saat merayakan Paskah - Sabtu (1/5/2021) - Foto Henk Widi

LAMPUNG – Ungkapan syukur sebagai rangkaian perayaan Paskah dan memasuki bulan Maria, menjadi kegiatan yang dipertahankan warga Katolik di Lampung.

Rukun Haryoto, salah satu sesepuh warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebut, nasi golong adalah salah satu bentuk ungkapan rasa syukur yang diwujudkan warga dalam perayaan Paskah. Nasi golong, merupakan nasi berbentuk bulat sekepalan tangan orang dewasa.

Pembuatan nasi golong, mengikuti tradisi leluhur di Yogyakarta. Nasi golong disajikan saat perayaan Paskah, bersama umat dalam kegiatan doa lingkungan. Setiap keluarga membawa nasi golong sesuai jumlah anggota keluarga masing masing. Tempat penyajian yang biasanya digunakan adalah periuk. Namun kali ini diganti memakai tampah, beralaskan daun pisang.

Pembuatan nasi golong, dilakukan oleh para wanita. Nasi Golong menjadi simbol kebersamaan, persatuan dan kebersamaan, yang diwujudkan nasi berbentuk bulat. Sebagai pelengkap dari nasi golong adalah sayuran, lauk-pauk yang lengkap. Sejumlah sayuran, yang disiapkan meliputi urap, kering tempe, tempe bacem, peyek, telur ayam. Tambahan opor ayam, ikan goreng, juga disertakan lengkap dengan nasi yang dibentuk tumpeng.

Mikael Anggi, warga Desa Pasuruan, menyajikan nasi golong bersama dengan nasi tumpeng dengan berbagai sayuran dan lauk saat acara syukuran di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Sabtu (1/5/2021) malam – Foto Henk Widi

“Sebagai umat Katolik yang tetap menjaga tradisi leluhur di Yogyakarta, kami akrab dengan nasi golong yang rasanya gurih, dahulu kala, menjadi makanan istimewa dan hingga kini selalu disajikan pada saat acara makan bersama dalam tradisi syukuran,” terang Rukun Haryoto, saat ditemui, Sabtu (1/5/2021) malam.

Nasi golong dibuat dengan memasak nasi dengan santan dan garam. Nasi yang memiliki rasa gurih itu selanjutnya dibentuk bulat memakai daun pisang. Bulatan nasi yang padat, dibuat dengan jumlah menyesuaikan jumlah anggota keluarga, untuk disajikan dalam wadah. Nasi golong disajikan dengan cara disusun bersama sayuran dan lauk pauk.

Sebagai pelengkap, penyajian nasi golong diberi tambahan ayam kampung panggang yang telah dibumbui, sehingga memiliki rasa gurih. Tambahan lain berupa tempe yang diolah dengan cara dibacem. Sayuran berupa urap dari berbagai jenis sayuran, parutan kelapa diaduk menjadi satu. “Semua bahan sayuran dan lauk ditempatkan dalam susunan nasi berbentuk tumpeng, nasi golong ditempatkan melingkar sebagai pelengkap,” cetusnya.

Setelah nasi golong dan berbagai sayuran, lauk disiapkan. Tahap selanjutnya digelar doa bersama, menggunakan doa berbahasa Jawa dalam tradisi Katolik, sebagai ungkapan syukur perayaan Paskah.

Kali ini, ungkapan syukur dipanjatkan untuk keselamatan dari pandemi COVID-19, dan menyambut bulan Mei yang diperingati sebagai bulan penghormatan kepada Bunda Maria. Setelah doa selesai dipanjatkan, nasi golong dan berbagai lauk disantap bersama.

Ngatiran, salah satu warga menyebut, nasi golong mulai jarang disajikan. Luliner tersebut, dulu dianggap sebagai makanan bangsawan, sehingga hanya muncul saat kenduri. Menikmati nasi golong, semakin lezat dengab tambahan sayur urap dan ayam kampung.  “Saya juga menyukai nasi golong dinikmati bersama dengan opor ayam untuk menambah rasa semakin lezat,” bebernya.

Kliem, salah satu ibu rumah tangga menyebut, nasi golong kerap disukai anak-anak. Dikenal sebagai nasi gurih nasi tersebut kerap dibungkus dengan daun pisang. Setelah dibagi dalam wadah daun pisang tambahan, lauk berupa telur ayam rebus, tempe bacem, suiran ayam dibagikan kepada warga sekitar. Hidangan makanan tradisional tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus ungkapan syukur dalam wujud kuliner.

Lihat juga...