Lebaran CDN

Ngada Miliki 12 Motif Tenun Ikat Warisan Leluhur

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Kain tenun ikat hampir ada di semua wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk di Kabupaten Ngada, Pulau Flores yang memiliki 12 jenis motif tenun yang sudah ada sejak turun temurun.

“Kami di Ngada ada 12 motif yang sudah turun temurun dan ke depannya ada motif-motif lainnya yang akan dikembangkan,” kata Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Ngada, NTT, Laurensius Ngiso Godja saat ditemui di Sentra Industri Jata Kapa, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Senin (3/5/2021).

Laurensius mengatakan, 12 motif yang ada ini sedang diperjuangkan untuk mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG) dan mendapatkan hak paten agar bisa dijual dengan harga tinggi ke luar daerah.

Pihaknya tertarik mendaftarkan Indikasi Geografis karena banyak motif tenun asal Ngada sudah ditiru oleh pengrajin yang menggunakan mesin tekstil dari berbagai tempat lalu dijual kembali dalam jumlah banyak.

“Kain tenun dengan motif asal Ngada ini ditiru dan diproduksi lalu dijual dengan harga murah. Ini akan mempengaruhi semangat dari kelompok untuk menenun dan paling pentingnya menghilangkan nilai budaya,” ungkapnya.

Laurensius memaparkan, kelompok tenun yang dibina Dinas Perindustrian Kabupaten Ngada memang masih sedikit sedikit dan baru ada 15 kelompok selain kelompok tenun binaan Dekranasda.

Ia katakan, ada desa-desa yang dahulunya banyak penenun dan ini yang akan dikembangkan ke depannya apalagi sudah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG).

“Hasil kain tenun di Ngada masih dijual di pasar lokal sehingga kita berharap dengan adanya pendaftaran Inidkasi Geografis, nantinya kain tenun Ngada bisa dijual ke luar daerah bahkan ke luar negeri,” sebutnya.

Laurensius katakan, tentunya semua langkah memajukan tenun ikat ini butuh komitmen pemerintah guna mendukung kelompok tenun dan memajukan kain tenun asal Ngada.

Pihaknya melakukan studi banding dan belajar ke Kabupaten Sikka tentang bagaimana sistem kerja di tingkat manajemen, di tingkat organisasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG).

“Kita ingin belajar bagaimana sistem kerja di kelompok-kelompok tenun dan pengelolaan pemasarannya sebab Kabupaten Sikka motif tenunnya sudah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG),” ucapnya.

Sementara itu, Oscar Mandalangi Parera, ketua organisasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kabupaten Sikka menyebutkan, kain tenun di Kabupaten Sikka sudah ada 52 motif yang mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG).

Oscar katakan, perjuangan untuk mendaftarkan motif tenun ikat ini dimulai dengan mendapatkan rekor dunia untuk peragaan pembuatan tenun ikat dengan peserta terbanyak yang berjumlah 1.057 penenun.

“Kami memulai dengan mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) tahun 2015. Kita sudah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis untuk 52 motif dan sedang diperjuangkan lagi 59 motif,” ujarnya.

Oscar menjelaskan, biasanya motif dari ikat tenun berasal dari makrokosmos atau alam raya seperti motif gambar bulan dan bintang dan juga dari mikrokosmos seperti gambar binatang, tumbuhan dan manusia.

Lihat juga...