Obwis ‘KK 26’ Masih Ditutup, Banyak Fasilitas Mulai Rusak

Editor: Makmun Hidayat

SITUBONDO — Destinasi wisata KK 26 di Desa Olean, Kecamatan/Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dapat menjadi salah satu tujuan wisata edukasi dan budaya. Wisatawan dapat menikmati bangunan tradisional Karang Kenik dan juga belajar membatik. Namun untuk sementara, belum dapat dikunjungi karena masih ditutup.

Ketua pengelola wisata KK 26, Mustawan, mengatakan, destinasi wisata KK 26 dibangun dan baru rampung tahun 2019. Namun akibat pandemi, selama dua tahun ini wisata tersebut masih tutup.

“Penutupan wisata berdasarkan imbauan dari pemerintah, karena dikhawatirkan akan menjadi dampak persebaran Covid-19,” ujar Mustawan kepada Cendana News, di wilayah Desa Olean, Minggu (16/5/2021).

Selama dua tahun ditutupnya destinasi wisata, banyak fasilitas yang ada sudah mulai keropos dan rusak. Karena semua bahannya terbuat dari bambu.

Mustawan, saat ditemui di wilayah Desa Olean, Minggu (16/5/2021). -Foto Iwan Feri Yanto

“Sejak ada upaya pembatasan kegiatan masyarakat, maka tempat wisata juga diharuskan untuk ditutup. Selama masa ditutupnya tempat wisata sampai sekarang masih belum bisa diaktifkan kembali. Karena untuk dapat dibuka kembali wisata, harus menunggu keputusan kepala daerah,” ungkapnya.

Mustawan menambahkan, sampai saat ini pihaknya belum bisa kembali membenahi beberapa fasilitas yang rusak, karena waktu untuk dapat kembali wisata KK 26 dibuka belum ada kepastian. Sedangkan biaya yang harus dikeluarkan cukup besar.

“Keinginan dari saya dan beberapa teman pokdarwis setuju untuk membenahi fasilitas yang rusak. Namun karena belum ada imbauan untuk dapat kembali beroperasi, maka kami tidak lakukan,” katanya.

Sebelum beberapa fasilitas banyak yang rusak, wisata KK 26 perlu perawatan. “Karena dirasa tidak ada pemasukan dari wisatawan, beberapa pokdarwis mengeluarkan biaya sendiri. Namun itu tidak bisa bertahan lama, sehingga saya sendiri yang merawatnya,” ucapnya.

Akibat ditutupnya wisata, beberapa usaha yang dijalani banyak yang tutup. Misyati, pedagang nasi mengatakan, selama wisata masih aktif, dirinya membuka usaha jualan nasi. Wisatawan yang datang menurutnya juga banyak, sehingga mendapatkan pemasukan yang cukup.

“Akibat ditutupnya tempat wisata, usaha yang saya jalani sebelumnya harus tutup. Karena sudah tidak ada pembeli. Selama saya jualan, pembeli yang ada dari wisatawan yang datang,” ucapnya.

Lihat juga...