Pandemi, Aktivitas Rekreasi Malam di Bandar Lampung Terus Menggeliat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kegiatan rekreasi malam hari di kota Bandar Lampung bergeliat sepanjang masa adaptasi kebiasaan baru (new normal). Geliat rekreasi malam hari di sejumlah titik diantaranya Elephant Park, Taman Dipangga, Pusat Kegiatan Olahraga Way Halim dan sejumlah titik lain menghidupkan ekonomi pendukung.

Yanto, pemilik usaha penjualan kuliner mi ayam, bakso, pangsit dan nasi goreng menyebut rekreasi malam berdampak positif.

Geliat rekreasi warga Bandar Lampung kala malam hari menjadi berkah bagi Yanto pemilik usaha kuliner di sekitar Jalan Sriwijaya, Enggal, Bandar Lampung, Minggu malam (30/5/2021) – Foto: Henk Widi

Sebelumnya selama hampir setahun ia was-was dengan adanya pembatasan jam operasional. Upaya menekan penyebaran Covid-19 berimbas pembatasan kegiatan rekreasi, kuliner. Salah satu lokasi Elephant Park, Enggal, Bandar Lampung jadi magnet kegiatan rekreasi malam warga.

Yanto menyebut sebagai pelaku usaha pendukung, ia kembali bisa mendapat pelanggan. Pembatasan hingga jam 23.00 WIB sebutnya mulai bisa diikuti olehnya dengan membuka usaha sejak sore.

Sejumlah kegiatan rekreasi bianglala, becak mini, mobil mini, kereta mini hingga delman hias mulai beroperasi. Antusiasme masyarakat menikmati suasana malam mendorong pelaku usaha rekreasi tetap beroperasi.

“Elephant Park jadi magnet masyarakat melakukan rekreasi malam hari dan dampaknya juga bagi usaha kuliner cukup signifikan karena selain menikmati suasana malam, warga kerap bisa menikmati sejumlah sajian kuliner di Jalan Sriwijaya yang menjadi pusat kuliner malam,” terang Yanto saat ditemui Cendana News, Minggu malam (30/5/2021).

Yanto menyebut kesadaran masyarakat menjaga protokol kesehatan telah meningkat. Pengelola tempat rekreasi malam Elephant Park juga menyediakan tempat cuci tangan.

Meski pandemi Covid-19 masih belum hilang kerinduan warga untuk mencari hiburan masih tetap berjalan. Warga yang sekedar ingin mencari hiburan kerap mampir untuk menikmati hidangan kuliner.

Hendra, pelaku usaha penjualan nasi goreng di Jalan Pangeran Antasari, Bandar Lampung mengaku operasional kembali normal.

Ia menyebut mulai jarang ada razia untuk penertiban pedagang. Jika ada razia protokol kesehatan dominan sifatnya sekedar imbauan. Pasalnya sebagian pelanggan memilih kuliner dari tempat usahanya dengan sistem bungkus (take away).

“Beroperasinya tempat karaoke, biliar, wisata malam di kota Bandar Lampung menggeliatkan pelaku usaha kuliner,” tuturnya.

Sempat hanya mendapat omzet sekitar Rp600.000 per malam imbas pembatasan, omzetnya kembali naik. Per malam ia kembali bisa mendapat omzet sekitar Rp1 juta dari hasil penjualan nasi goreng dan sejumlah kuliner lainnya.

Keberadaan tempat usaha kuliner sebutnya menjadi pendukung bagi sektor usaha informal di wilayah itu. Beberapa pengemudi taksi online, ojek online hingga ojek konvensional menjadi pelanggan tetap.

Pelaku usaha jasa hiburan delman hias, Baharudin, menyebut antusiasme warga mencari hiburan malam tetap stabil. Sebagian warga Bandar Lampung tetap membatasi kegiatan rekreasi hingga maksimal pukul 23.00 WIB.

Ia memiliki waktu sejak pukul 16.00 WIB menawarkan jasa delman hias. Rekreasi merakyat tersebut diakuinya masih diminati masyarakat.

“Delman hias jadi alternatif kegiatan rekreasi menikmati suasana malam di kota Bandar Lampung,” ulasnya.

Sejumlah titik pelayanan delman hias sebutnya dominan berada di area jalan kota yang sepi. Sejumlah lokasi diantaranya Jalan Yos Sudarso, Jalan Malahayati, PKOR Way Halim dan sejumlah titik lain.

Keberadaan delman hias yang menjadi magnet orang melakukan rekreasi malam sebutnya ikut mendorong sektor usaha lain.

Sejumlah usaha lain tersebut meliputi usaha kuliner jagung bakar, minuman bandrek. Beroperasinya kembali sejumlah usaha hiburan dengan pembatasan jam, penerapan protokol kesehatan ikut mendorong geliat ekonomi.

Kembali stabilnya kegiatan rekreasi malam membuat ia bisa mendapatkan omzet ratusan ribu per malam. Hasil tersebut cukup menjanjikan di tengah lesunya ekonomi kala pandemi.

Lihat juga...