Lebaran CDN

Pandemi, Inilah Suka dan Duka Pedagang di Jember

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JEMBER – Mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman jadi tantangan pedagang di Jember, khususnya di tengah pandemi Covid-19.

Apalagi, penjualan melalui media online kini semakin banyak diminati masyarakat. Dengan menawarkan produk berupa barang dan jasa melalui online juga memiliki keuntungan tersendiri bagi pelaku usaha.

Fatimah, seorang pedagang kebutuhan pokok sehari-hari di Pasar Patrang, Jember, kini juga memanfaatkan telepon pintar untuk digunakan memasarkan dagangan.

“Saya rasa dengan menggunakan media online sebagai tempat berdagang, dapat mengembalikan omzet pendapatan, khususnya hasil berjualan selama terjadi pandemi Covid-19,” ujar Fatimah kepada Cendana News, di wilayah Desa Krajan, Kecamatan Patrang, Jember, Jawa Timur,  Selasa (4/5/2021).

Sejauh ini, dampak pandemi Covid-19 tentu saja menyebabkan pedagang yang berada di salah satu pusat perbelanjaan pasar tradisional di Jember mengalami penurunan pendapatan. Para pembeli yang seringkali memenuhi lokasi pasar tersebut saat ini mulai sepi.

“Penurunan pendapatan mulai terasa saat pertama kali diterapkan aturan untuk masyarakat agar di rumah saja. Walaupun saat ini aktivitas masyarakat sudah mulai kembali normal, akan tetapi belum memiliki dampak baik bagi seluruh pedagang di pasar sini, termasuk salah satunya saya sendiri,” ucapnya.

Fatimah menambahkan, usaha yang dijalaninya selama ini ialah menjual kebutuhan pokok sehari-hari. Seperti ikan laut, tempe, tahu, sayur, beras dan lain sebagainya. Sejak sepi pembeli, usaha yang ditekuni selama puluhan tahun, kali ini sempat mengalami kerugian cukup besar.

“Tentunya sejak sepinya pembeli, beberapa dagangan yang saya jual banyak yang tidak laku terjual dan terpaksa harus dibuang. Salah satunya seperti stok ikan laut yang tidak laku, selain dimanfaatkan untuk dimasak sendiri, sisanya terpaksa juga harus saya buang. Karena ikan yang sudah lama tidak segera dimasak rasanya sudah tidak enak lagi,” ucapnya.

Meminimalisir kerugian yang dialaminya, selain menjualkan dagangan di pasar, kini Fatimah juga mencoba peruntungan berdagang melalui media online.

“Walaupun saat ini pasar relatif sepi pembeli, saya kini mencoba menawarkan melalui media online omzet yang didapat kembali normal. Biasanya sering kali saya menawarkan di grup yang ada, dari beberapa dagangan saya sertakan harga yang saya tawarkan. Seperti beras per kilogram Rp12.000, lauk tahu per bungkus Rp3.000, tempe yang masih utuh harganya Rp5.000, serta sayur, daging ayam dan lain sebagainya juga saya jualkan melalui grup di hp saya,” ungkapnya.

Berbeda dengan pedagang lainnya di Pasar Patrang Jember, Indri mengaku, keterbatasannya tidak memiliki smartphone memilih untuk bertahan berjualan sampai menunggu ada pembeli yang datang.

Indri, saat ditemui Cendana News di wilayah Desa Krajan, Kecamatan Patrang, Jember, Jawa Timur, Selasa (4/5/2021). – Foto Iwan Feri Yanto

“Memang selama pandemi ini, keuntungan yang saya dapatkan sangat kecil. Dampak pandemi memang menyebabkan minimnya pembeli. Penyebabnya juga diakibatkan banyaknya pedagang menjual langsung ke rumah warga. Akhirnya, masyarakat tidak perlu menuju ke pasar, tinggal menunggu saja di rumahnya,” ucapnya.

Lihat juga...