Panen Parsial Cara Petambak Udang Penuhi Permintaan Pasar

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Kebutuhan akan udang putih atau vaname untuk kuliner menjadi peluang petambak di Lampung Selatan untuk dapat memberikan pemasukan yang berkelanjutan. Salah satu cara memenuhi kebutuhan, dengan melakukan panen parsial, terjadwal memakai sistem sortir.

Timbul, petambak udang di Desa Berundung, Kecamatan Ketapang menyebutkan, panen parsial dilakukan pada budidaya tambak semi intensif (mempergunakan kincir air atrau bagongan) dan tradisional. Normalnya benih udang vaname atau benur akan ditebarkan dengan ukuran 5 cm. Memasuki usia 75 hari dengan ukuran atau size 75 udang mulai bisa dipanen.

Permintaan udang vaname untuk sejumlah pedagang sebut Timbul bisa mencapai 1 kuintal. Pemanenan parsial jadi strategi pembudidaya untuk tetap bisa mempertahankan populasi. Habitat buatan tambak dengan kincir akan semakin mendukung pertumbuhan saat populasi dikurangi.

“Manfaat positifnya pada pengurangan kebutuhan pakan, kerapatan populasi udang bisa dikurangi agar sirkulasi oksigen lebih terjamin untuk bisa menjaga siklus udang hingga panen total, setelah usia tiga bulan,” terang Timbul saat ditemui Cendana News, Senin (31/5/2021).

Timbul bilang kerapatan populasi udang yang dikurangi akan tetap mendukung budidaya. Sebab hasil penjualan udang sistem parsial bisa dipergunakan untuk pembelian stok pakan, biaya operasional.

Biaya operasional yang tetap dikeluarkan sebutnya berupa listrik, bahan bakar, perawatan hingga pakan. Perkilogram udang vaname bisa dijual Rp55.000 hingga Rp60.000.

Panen parsial sebut Timbul akan menjaga stabilitas air. Sebab residu pakan buatan bisa dikurangi dengan populasi yang lebih terbatas. Pertumbuhan udang vaname hingga size 100 akan meningkatkan harga jual. Saat panen total, hasil panen bisa mencapai 600 hingga 700 kilogram per petak.

“Sistem budidaya udang vaname harus memanfaatkan pasokan air dari kanal, jika air lancar maka tambak berjalan normal,” ulasnya.

Sistem tambak intensif dengan pemakaian kincir air memungkinkan petambak melakukan panen parsial usia 75 hari hingga 100 hari di wilayah Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Senin (31/5/2021). Foto: Henk Widi

Petambak lain, Muhidin, di Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang menyebut panen parsial perlu dilakukan. Resiko gagal panen berpotensi terjadi saat perubahan cuaca dominan panas dan hujan.

Pemanenan parsial dilakukan menghindari tingkat stress pada udang. Perubahan cuaca kerap berimbas pada penyakit white spot atau bintik putih, mencret hingga virus myo.

Panen parsial menghindari kerugian imbas penyakit. Saat penyakit menyerang maka ia masih bisa mendapat hasil dari penjualan panen parsial.

“Panen parsial akan memudahkan penghitungan biaya operasional dan hasil yang didapat,” ulasnya.

Permintaan udang vaname kerap untuk memenuhi pedagang keliling atau pelele dan pedagang pasar. Usai proses sortir udang dikirim ke pedagang dengan harga jual di pasar Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram.

Wandiah, pedagang ikan di pasar Pematang Pasir menyebut udang vaname cukup diminati. Saat musim hajatan pernikahan konsumsi udang vaname meningkat. Ia menjual udang vaname size 75 hingga 80 dengan harga Rp70.000.

Lihat juga...