Pasutri Ini Tularkan Seni Karawitan Meski di Usia Senja

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Usia pasangan kakek Martowinagun (70) dan nenek Suparti (62) memang tak lagi muda. Meski begitu, semangat keduanya di bidang seni budaya, khususnya karawitan tak bisa dipandang sebelah mata. 

Mulai mengenal dan menggeluti kesenian tradisional gamelan sejak muda, Mbah Martowinagun konsisten melestarikan karawitan hingga usia senjanya.

Bersama istrinya Suparti yang dulu merupakan seorang sinden, mereka aktif melatih generasi muda baik anak-anak atau remaja di desanya untuk belajar seni karawitan.

Hal itu mereka lakukan semata-mata agar kesenian karawitan bisa tetap lestari dan tak hilang begitu saja. Meskipun ketiga anak dan kelima cucu mereka sendiri enggan meneruskan jejaknya.

“Memang walaupun saya seorang pengrawit dan istri seorang sinden, tapi tidak ada anak cucu yang mau meneruskan. Ya tidak apa-apa. Yang penting masih ada orang lain yang mau belajar,” katanya.

Tanpa mendapatkan bayaran, Mbah Martowinagun serta Mbah Suparti rutin melatih seni karawitan melalui Sanggar Langgeng Budaya yang ada di dusun mereka Cemethuk Kedungsari Pengasih Kulon Progo.

Berkat tangan dingin mereka, kelompok seni karawitan di desanya pun bisa berkembang. Selain rutin pentas di sejumlah acara desa, mereka juga aktif mengikuti sejumlah event seni budaya hingga tingkat kabupaten.

“Dulu waktu muda memang jadi profesi, tapi sekarang saat sudah tua, karawitan itu bagi kita ya seperti hobi saja. Kalau tidak main ya seperti ada yang kurang. Karena itu sudah jadi hiburan kita sehari-hari,” katanya.

Mbah Martowinagun serta Mbah Suparti hanya bisa berharap agar ke depan seni karawitan tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman. Pasalnya ia mengakui di era yang sudah sangat modern seperti saat ini, semakin sedikit generasi muda yang mau mengenal seni karawitan.

“Memang anak-anak sekarang lebih suka main HP dibandingkan main gamelan. Tidak bisa dipungkiri. Karena mungkin zamannya sudah beda. Tapi kalau bisa ya di daerah-daerah tertentu ada yang tetap melestarikan. Agar tidak hilang,” katanya.

Menurut Mbah Martowinangun, sejauh ini peran pemerintah dalam hal pelestarian seni budaya karawitan di wilayah DIY dan Kulon Progo sendiri cukup bagus. Hal itu ditunjukkan dengan besarnya dana yang digelontorkan untuk memotivasi kelompok-kelompok karawitan di desa-desa.

“Setiap ada event itu biasanya kita dapat bantuan mulai dari Rp1 juta sampai pernah ada yang Rp12 juta. Sebagai dana operasional. Kelompok-kelompok karawitan yang aktif juga bisa mendapatkan bantuan peralatan, tinggal mengajukan saja,” ungkapnya.

Atas dasar itulah, ia menilai upaya yang mestinya harus dilakukan adalah terus mengenalkan dan mengajarkan kesenian karawitan itu pada generasi muda. Ia yakin, dari sekian banyak generasi muda, pasti akan ada satu dua orang yang memiliki kecintaan serta komitmen seperti dirinya.

Lihat juga...